Pendidikan Kebangsaan Diabaikan

1 September 2009 Berita Pendidikan


JAKARTA Kurangnya rasa nasionalisme di kalangan generasi muda sekarang ini disebabkan pemerintah belum serius, bahkan cenderung mengabaikan pendidikan kebangsaan dan nasionalisme di sekolah. Pembelajaran pendidikan kebangsaan dan nasionalisme di sekolah masih sebatas hafalan tanpa diikuti pemaknaan sesungguhnya.

Hal tersebut dikemukakan pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Soedijarto kepada SP di Jakarta, Jumat (14/8). "Sampai saat ini, pemerintah tidak pernah merasa ada yang salah dan keliru dalam pembelajaran kebangsaan dan paham nasionalisme di sekolah," ujarnya.

Diakuinya, memang sudah ada mata pelajaran kewarganegaraan yang diajarkan kepada peserta didik. Namun, pelajaran tersebut tidak cukup banyak menjelaskan secara gamblang dan detail mengenai bagaimana dan mengapa ada cita-cita pembentukan negara Indonesia, Pancasila, dan juga keindonesiaan.

Akibatnya, peserta didik tidak pernah tahu makna sesungguhnya hidup berbangsa dan bertanah air di Indonesia. Menurut dia, materi pelajaran kewarganegaraan yang diajarkan di sekolah lebih banyak mengutamakan kebinekaan saja, namun tunggal ika atau persatuan dan kesatuannya sebagai bangsa Indonesia tidak diberi perhatian penting. Muatan lokal atau daerah malah diperbanyak kata Soedijarto, padahal keindonesiaan sampai saat ini masih belum terbangun secara sesungguhnya. Sumpah Pemuda terjadi, katanya, karena semua daerah, akar lokalnya dicabut dan kemudian melebur menjadi satu di dalam Indonesia.

Untuk itu, katanya, pemerintah harus segera merevitalisasi kurikulum pendidikan yang mengajarkan kebangsaan dan nasionalisme di sekolah. Sebab, jika dibiarkan, bisa menjadi problem yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia pada masa mendatang.

Lupa "Indonesia Raya"

"Kasus kelupaan menyanyikan Indonesia Raya saat pembukaan rapat paripurna DPR untuk memperingati HUT ke-64 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia menunjukkan para pemimpin dan elite kita saat ini tidak memberi contoh yang baik kepada masyarakat dan juga generasi muda. Ini kesalahan fatal dan tidak bisa dimaafkan," tegasnya.

Sementara itu, pakar pendidkkan lainnya, Arif Rachman mengatakan, manusia yang nasionalis memiliki keinginan dan kemampuan untuk menjadikan bangsanya menjadi bangsa yang punya indentitas, bangsa yang sejahtera, dan bisa hidup damai dengan negara-negara lain. Dikatakan, nasionalisme berarti tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan kehidupan bangsa dan negara.

Upacara dan paskibra hanyalah salah satu bentuk nasionalisme, tetapi tidak bisa dijadikan ukuran nasionalisme. "Pendidikan moral sangat penting bagi anak didik Indonesia, apalagi "UU mengamanatkan pembentukan anak didik yang berakhlak mulia dan berbudi luhur," katanya. M-17/W-12

sumber: suarapembaruan.com