Pendidikan Karakter Sulit Diterapkan

18 Januari 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menyatakan, bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa selama ini telah diterapkan dan menjadi kesatuan dengan kurikulum pendidikan yang sesungguhnya telah dipraktekkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Demikian dikatakan oleh Direktur Pembinaan SMP Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Didik Suhardi di Jakarta, Jumat (15/1/2010), menjawab pers tentang langkah konkret penerapan pendidikan karakter bangsa kepada peserta didik.

"Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnya bukan pada teori," kata Didik seperti dikutip di Antara.

Menurutnya, pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulum yang tersembunyi. Didik mengakui, banyak keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika, dan kreativitas siswa karena melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa.

"Soal implementasi yang mulai mengendur bisa saja terjadi. Tapi, masih banyak sekolah yang mampu memadukan kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah," kata Didik Suhardi.

Seperti diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Jumat (15/1/12010), praktisi pendidikan Dr Anita Lie mengatakan, syarat menghadirkan pendidikan karakter dan budaya di sekolah harus dilakukan secara holistis. Pendidikan karakter, kata dia, tidak bisa terpisah dengan bentuk pendidikan sifatnya kognitif atau akademik

Peraih gelar Doktor Bidang Kurikulum dan Pengajaran dari Baylor University, Texas, Amerika Serikat, ini menambahkan bahwa pendidikan karakter sebaiknya tidak dikotomikan macam-macam. Dia katakan, konsep pendidikan tersebut harus diintegrasikan ke dalam kurikulum.

"Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapi menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikannya dalam mata pelajaran dan keseharian anak didik," ujar Anita.

Mata pelajaran biologi, misalnya, siswa bisa diajak langsung menanam tumbuh-tumbuhan, diberi pemahaman tentang manfaatnya, dikaitkan dengan kerusakan lingkungan dan sebagainya. Dikatakannya, pelajaran biologi juga menyangkut hal-hal lain di luar disiplin ilmu tersebut.

Pada mata pelajaran kesenian pun bisa diterapkan pendidikan karakter. Sebutlah contohnya, siswa diajak mengenal dan mempraktikkan beragam peninggalan seni budaya yang menjadi muatan-muatan lokal, falsafah budaya, dan manfaatnya.

"Masalahnya, mayoritas guru belum punya kemauan untuk melakukan itu. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata," ujarnya.

Hal tersebut, kata Anita, disebabkan pendidikan Indonesia masih terfokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan. Sebaliknya, aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justeru diabaikan.

"Karena mengejar target-target akademik itu, sebutlah seperti Ujian Nasional (UN) misalnya, pendidikan karakter akan sulit diterapkan. Kita semua memang masih terpusat pada prestasi akademik," tambah Anita.

sumber: kompas.com