Pendidikan Geografi Perlu Ditata Lagi

19 Oktober 2010 Berita Pendidikan


YOGYAKARTA - Pendidikan geografi di Indonesia perlu ditata lagi karena dalam pengembangannya masih menghadapi kendala, kata Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Suratman Worosuprojo.

"Kendala itu antara lain inkonsistensi materi ajar dari tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Guru yang tidak memiliki ijazah geografi, jumlah jam mengajar di SMA yang kurang, dan tidak diajarkan di SMA jurusan IPA," katanya di Yogyakarta, Sabtu (16/10/2010).

Menurut dia, dalam forum diskusi di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), pendidikan geografi di Indonesia terus mengarah pada kompetensi yang meyakinkan dapat menyelesaikan masalah nasional dan global.

"Geografi dipelajari sudah sejak lama, mulai dari era deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif hingga sekarang yang memasuki era kuantitatif matematis eksperimental dan model," katanya.

Ia mengatakan, mengingat pentingnya ilmu itu, para ahli geografi perlu memberikan cara mengembangkan "spasial intelegensia" yang sangat diperlukan bagi generasi penerus. Apalagi perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG) yang pesat dan mudah.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Asosiasi Guru Geografi Indonesia, Tony Prasetyarto, mengatakan, kurikulum geografi di SMA merupakan bagian yang integral dengan kurikulum yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.

"Hal itu berarti seorang guru geografi harus melaksanakan pengajaran berdasarkan kurikulum yang telah disepakati atau dipakai di SMA yang bersangkutan. Ketika seorang guru geografi di sekolah merumuskan silabusnya harus mengikuti standar yang telah ditetapkan pemerintah," katanya.

Menurut dia, "tantangan" yang biasa dijumpai guru geografi antara lain ijazah yang dimiliki harus sarjana (S1) berlatar belakang geografi dan akta IV, olimpiade kebumian yang materinya menyangkut geografi.

"Selain itu, fenomena geosfer terutama yang ada di sekitar kita membuat guru geografi wajib menjelaskan kepada peserta didik," katanya.

Pada forum diskusi itu juga disampaikan adanya revisi isi kurikulum geografi yang meliputi lima aspek yang dipelajari dari tingkat dasar hingga SMA. Kelima aspek itu meliputi gejala alam dan sosial, sumber daya dan pengembangan wilayah, pelestarian lingkungan hidup, mitigasi bencana, dan SIG.

sumber: kompas.com