Pendidikan bagi Anak Jalanan Manggarai

25 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Ketua Komnas Perlindingan Anak, Seto Mulyadi, meresmikan Pondok Cerdas Katalonia di Jalan Manggarai Utara Blok F/10, Jakarta Selatan, pada Jumat (21/8) sore.

Pondok milik Yayasan Berkat Alfa Omega Indonesia Katalonia ini didirikan sebagai tempat belajar para anak jalanan, anak pemulung, anak putus sekolah, dan anak yatim piatu yang berkeliaran di kawasan Manggarai.

Seto Mulyadi bekerja sama dengan Yayasan tersebut dengan memberikan dua program studi yakni Kelas Mobil Berjalan (KMB) dan home schooling. Program studi lainnya, TK, bimbingan belajar (bimbel), SD, SMP, SMA, dan Kejar Paket A, B, C bagi yang mereka putus sekolah. Semua program itu gratis, tidak dipungut biaya.

Kami memberikan apresiasi yang sangat tinggi, ada sekelompok masyarakat yang memperhatikan pendidikan anak-anak yang tidak terjangkau. Kami berharap agar ini diikuti oleh masyarakat lain, juga oleh pengusaha-pengusaha, karena untuk membuat seperti ini tentu membutukan biaya, kata Kak Seto.

Selain Kak Seto, panggilan akrab Seto Mulyadi, acara peresmian itu juga dihadiri sukrelawan dari dalam dan luar negeri. sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Korea, WorldShare, sengaja datang ke Indonesia untuk menjadi sukelawan. Salah satu sukarelawan itu adalah Miss Won.

Dia mengatakan, dengan adanya Pondok Cerdas ini anak-anak jalanan juga bisa pintar.Untuk anak jalanan di Manggarai, jangan pernah berhenti belajar untuk meraih cita-cita. Raihlah sampai dapat, ujarnya kepada anak-anak dalam pidatonya.

Dulu, sebelum bernama Pondok Cerdas Katalonia, nama tempat ini adalah TK Darurat, karena tempatnya yang selalu berpindah-pindah. Mulai dari stasiun, halaman depan mushola, dan rumah penduduk. Terakhir mereka belajar di tempat permukiman pemulung. Tetapi itu digusur karena akan dijadikan jalur hijau oleh pemerintah setempat. Karena itu dibentuklah Pondok Cerdas ini yang tentu membutuhkan biaya.

WorldShare membiayai penyewaan tempat Pondok Cerdas, yang saat ini bertempat di salah satu rumah warga. Terdapat tiga ruangan yang akan menjadi kelas untuk mereka. Tiga ruangan itu dihargai Rp 20 juta per tahun.

Menurut Ketua Yayasan Berkat Alfa Omega, Rospita Sinaga, tempat ini belum permanen. Rencananya di sini hanya dua tahun, kita akan mencari tempat yang permanen dan yang lebih layak, ujarnya.

Menurut Ros, sapaan Rospita,anak-anak yang akan belajar mulai 1 September nanti, terdiri dari anak jalanan stasiun kereta api berjumlah 85 anak, anak pemulung 55 orang, dan anak putus sekolah berjumlah 65 orang. Mereka akan belajar di tiga ruangan tersebut dengan waktu yang telah diatur dan ditentukan.

Mengajar anak-anak yang biasa melewatkan hari-harinya di jalan tidak lah mudah. Hal ini dirasakan oleh salah satu staff pengajar sukarela, yang juga Ketua Pengurus Pondok Cerdas Katalonia, Okky Valendy Harun. Okky mengaku harus beribu-ribu kali sabar menghadapi anak-anak yang dibesarkan di jalan itu.

Yang sedang dibentuk adalah gurunya, bagaimana menjadi orang sabar. Yah ini, uji mental kesabaran. ujarnya.

Tetapi, dia senang menghadapi anak-anak seperti mereka. Saya senang kalau karakter-karakter yang kurang baik dari mereka dapat berubah. Yang pertama bukan pelajaran tapi membentuk kpribadian mereka dulu, imbuhnya.

Jangan salah, anak jalanan kalau dikasih kesempatan untuk memahami apa arti penting pendidikan, mereka jauh lebih bisa menghargai dan berprestasi dari anak rumahan, tuturnya. (Dwy)

Sumber: Wartakota.Co.Id