Pemkab Bantul Tawarkan Beasiswa bagi Warga di Desa Wisata

31 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul menawarkan bantuan beasiswa bagi masyarakat di desa wisata untuk jenjang pendidikan tinggi. Salah satu perguruan tinggi yang digandeng adalah Politeknik API Yogyakarta. Beasiswa tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Suyoto, Jumat (28/8), mengatakan, pihaknya sengaja menggandeng Politeknik API karena lembaga tersebut memiliki program studi bina wisata dan perhotelan. Keduanya sangat relevan untuk mengembangkan potensi desa wisata.

Menurutnya, dalam program beasiswa tersebut politeknik memberikan kemudahan bagi calon mahasiswa program diploma III. Calon mahasiswa hanya membayar selama dua semester sebesar Rp 5 juta dan dapat diangsur. Mereka langsung dapat kuliah sampai selesai yaitu selama 3 tahun karena biaya kuliah empat semester berikutnya gratis.

Suyoto berharap masyarakat di desa wisata bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. Dengan mencetak generasi muda yang berbakat sehingga mampu mengembangkan potensi desa. "Bagi masyarakat yang berminat bisa langsung menghubungi kantor kami," katanya

Dia mengatakan, semakin menariknya manfaat ekonomi yang bisa diperoleh dari desa wisata, membuat desa-desa di Bantul ramai-ramai mengusulkan status desa wisata ke kantornya. Saat ini sudah ada sembilan desa wisata di Bantul, dua di antaranya tidak aktif. Ada lima kecamatan yang sekarang tengah mengajukan desa wisata, yakni Pundong, Jetis, Srandakan, Kasihan, dan Piyungan, katanya.

Menanggapi tawaran tersebut, pengelola Desa Wisata Kebonagung Imogiri Kristya Bintara mengaku senang. Ia berharap sebenarnya bisa mengeyam pendidikan di perguruan tinggi secara gratis. "Namun, kalau tawarannya adalah pengurangan biaya pendidikan ya tidak apa-apa," katanya.

Menurutnya, kesulitan utama mempertahankan desa wisata adalah menjaga ruh dan semangat warga. Bila ruh telah hilang maka tidak adalah faktor penarik yang mampu menyedot wisatawan. Untuk mempertahankan ruh tersebut dibutuhkan orang-orang berkualitas.

Diharapkan dengan bekal pengetahuan yang cukup, pengelola desa wisata bisa menjaga ruh dan semangat kebersamaan warga sehingga inovasi-inovasi baru selalu tercipta sebagai daya tarik wisata, katanya.

Laporan wartawan KOMPAS Eny Prihtiyani

Sumber: Kompas.Com