Berita Pendidikan
20 Juli 2010

Pembelian Buku Paket Sekolah Memberatkan Orang Tua

MAJALENGKA - Sejumlah orang tua murid sekolah dasar negeri (SDN) yang berpenghasilan pas-pasan, mengeluhkan pembelian berbagai buku paket pelajaran di sekolah yang terus mengalami perubahan setiap tahunnya.

Bahkan, pada tahun ajaran baru ini, semua siswa diwajibkan membeli buku dari penerbit yang telah ditunjuk oleh sekolah tersebut, kata Endu Suhendi (40) salah seorang wali murid kelas V di Majalengka, Senin.

Hal senada juga diakui beberapa orang tua siswa kelas IV, V, dan VI, sebelum tahun ajaran baru dimulai, pihak sekolah sudah menyodori daftar buku paket yang harus dibeli oleh orang tua murid. Daftar buku tersebut diberikan kepada siswa serta orang tua lengkap bersama dengan daftar harga juga penerbitnya.

"Anak saya diberi dua daftar buku paket. Untuk buku agama, bahasa Inggris, serta bahasa Sunda, juga IPA harganya hampir Rp200 ribu. lalu untuk buku mata pelajaran, matematika, IPS terpadu, seni budaya, bahasa Indonesia serta buku pendidikan jasmani, kurang dari Rp175 ribu," kata Endu Suhendi.

Sejumlah orang tua murid meresa terbebani jika harus membayar uang sebanyak itu. Karena penghasilan mereka terbatas,awalnya mereka berharap, buku-buku paket yang telah dipakai oleh kakak kelasnya selama setahun lalu, dapat dipergunakan kembali oleh adik-adik kelasnya.

Dengan demikian, tidak usah membeli buku baru, seperti yang pernah disampaikan oleh Mendiknas dan Gubernur Jabar.

"Menteri Pendidikan serta Gubernur Jawa Barat, pernah menyebutkan bahwa buku pelajaran di sekolah dapat dipergunakan untuk masa waktu kurang dari lima tahunan. Ternyata buku pelajaran di SD setiap tahun terus berubah, sehingga buku yang tahun kemarin dipergunakan tahun ini sudah tidak berlaku," tandasnya.

Meskipun demikian, Endu akhirnya terpaksa harus membeli buku. Dirinya mengaku khawatir jika tidak membeli buku yang diperintahkan
sekolah, anaknya kurang diperhatikan oleh guru di sekolahnya.

Sementara itu, beberapa orang tua murid kelas VI, mengakui terdapat keganjilan saat memulai tahun ajaran baru ini. Misalnya, untuk beberapa jenis buku pelajaran lain harus menyerahkan uang inden. kemudian, bukunya baru akan diserahkan bulan berikutnya

Komite Sekolah pada salah satu SD di Kadipaten, Majalengka, Sabungan menuturkan, pembelian buku melalui penerbit yang dilakukan oleh sekolah adalah kerja sama antara sekolah dan penerbit untuk menghindari penjualan buku secara langsung oleh sekolah. Jika hal terus dilakukannya, dinilai telah melanggar aturan.

"Terdapat sejumlah sekolah yang tetap hendak mendapatkan komisi dari penjualan buku-buku tersebut. Sekolah itu mengakalinya dengan cara meminta orang tua siswa untuk membeli buku kepada penerbit yang ditunjuknya. bila membeli di sekolah, pasti dipersalahkan oleh aturan," jelasnya.

Sementara itu Waryono orang tua siswa mengaku, sekolah gratis hanya semboyan saja tetap setiap tahun dirinya harus menyediakan berbagai macam buku untuk menunjang kegiatan belajar anaknya. Meskipun sekolahnya saat ini baru di Sekolah Dasar apalagi nanti setelah memasuki jenjang yang lebih tinggi, ujarnya. (Ant/cs/OL-1)

Sumber: mediaindonesia.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Karir Iklan Baris