Pelajar Indonesia Kembali Harumkan Nama Bangsa Lewat Inovasinya

5 Juli 2013 Berita Pendidikan


Suatu inovasi akan muncul ketika seseorang melihat dan mengalami kesulitan dalam melakukan suatu aktivitas sehari-hari. Inovasi akan lahir dari pemikiran seseorang yang ingin membantu orang lain untuk mempermudah pekerjaannya dalam kesehariannya. Hal inilah yang rupanya telah dipelajari oleh Muhammad Muhlas Abror dan Fadhil Imam Kurnia, pencipta Faster System yaitu perangkat lunak dipadukan dengan teknologi Radio Frequency Identification yang bisa mempercepat proses pembayaran di kasir.

Berbekal pengalaman ketika berbelanja di pasar swalayan yang membuat kedua siswa yang bersekolah di SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah ini membuat suatu sistem perangkat lunak untuk mesin kasir yang memungkinkan sejumlah barang belanjaan dipindai dalam hitungan detik dan dihitung harganya dengan cepat.

Radio Frequency Identification (RFID) sebenarnya teknologi wireless yang sudah lama ada, namun teknologi ini sedikit diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Rencananya, Teknologi ini juga akan digunakan untuk membatasi konsumsi BBM bersubsidi, dengan memasang chip di mulut tangki kendaraan. Sistem ini menggunakan gelombang radio yang menangkap sinyal dalam chip dan dideteksi oleh RFID.

Sensor RFID sendiri memiliki kekuatan dalam menyensor yang bervariasi yang bergantung pada radius mulai dari jarak 10 centimeter sampai 10 meter. Pada saat benda tersebut masuk dalam beberapa radius tertentu, chip yang diterpasang akan memancarkan gelombang yang nantinya akan ditangkap oleh RFID sehingga barang-barang yang telah diberikan chip dapat dideteksi dan dibaca dalam waktu yang bersamaan.

Untuk menjalankan RFID secara nirkabel, Muhlas dan Fadhil menggunakan software Microsoft access dan visual basic membuat program dan menghubungkan dengan RFID yang berfungsi sebagai sensor.

Jadi semua barang yang telah disisipkan chip akan terbaca oleh RFID. Chip yang diberikan cara kerjanya sama seperti barcode yang biasa ada pada kemasan makanan atau label harga namun perbedaannya adalah jika barcode hanya bisa dibaca oleh sensor secara satu persatu namun dengan faster system, barang yang diberi cip bisa dideteksi RFID secara bersamaan sehingga tidak perlu lagi menunggu lama untuk membawa pulang barang belanja.

Seperti contoh, Dalam simulasi barang-barang yang diberi chip dan ditaruh dalam keranjang belanjaan, dilewatkan alat sensor pada jarak tertentu. Dalam waktu satu detik, lima macam barang terkalkulasi di Faster System. Radius antara barang dan alat sensor bervariasi, bergantung besar-kecilnya RFID.

Tidaklah heran jika mereka pulang dengan mengantongi medali emas yang diadakan di Infomatrix, Romania, yang diselengarakan 16-20 Mei 2013. Temuan dari kedua pelajar dari SMA Negeri 3 Semarang membuat para juri mengatakan inovasi mereka bisa digunakan untuk teknologi kasir masa depan.

Kedua pelajar berharap, inovasinya ini bisa menjadi contoh dan dapat diterapkan di toko - toko dan pasar swalayan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Tidak mau kalah dengan satu sekolahnya, Taufiq Adi Wijoyo dan Naufa Hanif yang juga siswa SMA Negeri 3 Semarang menciptakan inovasi di bidang teknologi yaitu aplikasi interaktif kegiatan sekolah dengan nama Aplikasi Data Akademik Ganesha (Adegan).

Ide brilian dari kedua siswa ini muncul ketika banyaknya pengguna smartphone di SMA Negeri 3 Semarang namun tidak banyak dari mereka yang mengandalkan ponsel pintar mereka untuk memanfaatkan ponselnya untuk mengenal dunia pendidikan.

Tidak hanya itu, kegiatan di sekolah sangat banyak sehingga kesibukan guru dan siswa luar biasa. Karena itu, dibutuhkan sarana komunikasi yang dapat menunjang seluruh kegiatan belajar-mengajar, penyebaran informasi, serta diskusi interaktif yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Hal ini memperkuat alasan mereka untuk menciptakan aplikasi interaktif ADEGAN.

Beberapa fitur yang terdapat di Adegan bisa digunakan oleh para siswa dan guru seperti edu chat yang bisa digunakan untuk komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua, info jadwal pelajaran, materi pelajaran, tugas sekolah, hingga latihan soal.

Adegan dibuat dengan memanfaatkan program Apps Builder, sistem untuk membuat aplikasi di ponsel pintar dengan basis Android. Setelah itu, aplikasi dipublikasikan di Apps store dan dapat digunakan di ponsel dengan sistem operasi Android, iOS, dan Windows Live. Namun bagi mereka yang menggunakan ponsel Blackberry sepertinya tidak dapat memakai fitur dari aplikasi Adegan ini karena Blackberry sendiri memiliki jaringan tersendiri sehingga untuk memakai aplikasi ini harus membutuhkan lisensi tertentu.

Dengan penciptaan Aplikasi Adegan, kedua pelajar ini menyabet medali perak dalam ajang E-biko di Turki pada tanggal 12-13 Mei 2013.

Mereka berharap aplikasi ini tidak hanya diterapkan oleh sekolahnya saja namun dapat di manfaatkan oleh semua sekolah di Nusantara.

(Dikutip dari berbagai sumber)