Payah, Banyak Guru Enggan Mengajar di Pedalaman

23 Februari 2010 Berita Pendidikan


Provinsi Riau masih mengalami kekurangan sekitar 8.000 guru sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU)/sederajat, terutama di daerah-daerah pelosok desa.

"Sampai hari ini Riau masih kekurangan sekitar 8.000 orang untuk semua tingkatan sekolah negeri milik pemerintah," ujar Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Riau, Prof Dr Isjoni, di Pekanbaru, Senin (22/2/2010).

Minimnya jumlah tenga pengajar itu, lanjut Isjoni, jamak dijumpai pada sekolah-sekolah negeri baik tingkat SD, SMP atau SMU sederajat di daerah pelosok desa yang ada di Riau. Akibatnya ratusan murid SD dengan jenjang tingkatan murid mulai dari kelas satu hingga kelas enam hanya diajarkan oleh dua orang guru, karena sebagian tenaga pengajar enggan mengabdi di daerah pedalaman.

"Sebagian besar tenaga pengajar terutama mereka yang sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil minta dipindahkan ke kota dengan berbagai alasan sehingga guru di pelosok desa masih menjadi masalah yang belum terselesaikan," ujarnya.

Menurutnya, kondisi itu menyebabkan terjadi penumpukan guru di ibu kota baik provinsi atau kabupaten/kota khususnya pada sekolah-sekolah yang menjadi favorit dengan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah. "Kondisi yang miris bila kita membandingkan jumlah guru atau fasilitas yang diberikan kepada sekolah yang ada di kota dengan sekolah yang berada di pelosok desa yang seolah-olah kurang perhatian," jelasnya.

Oleh karena itu, ujarnya lagi, diperlukan kearifan lokal terutama pemerintah setempat dan para guru agar pendidikan di pelosok desa tidak berbeda jauh dengan mereka yang sekolah di kota. Data Dinas Pendidikan Riau menyebutkan, jumlah guru di Riau pada tahun 2009 sebanyak 93 ribu orang dan 53 ribu di antaranya telah memiliki kualifikasi pendidikan sarjana sesuai Undang-Undang Guru dan Dosen.

Penulis: LTF/Editor: latief

Sumber: Ant (kompas.com)