Orang yang Fleksibel Mampu Hadapi Konflik

27 April 2011 Berita Pendidikan


Konflik bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, baik konflik internal maupun eksternal. Konflik bukanlah hal yang harus dihindari, melainkan harus dihadapi dengan kesiapan diri yang optimal. Namun, sesiap apapun seseorang, kepanikan selalu hadir bersamaan dengan konflik yang datang.

Biasanya, saat menghadapi konflik kepanikan akan muncul. Padahal, kapasitas mengelola kepanikan itu bisa dikontrol, ujar psikolog Ratih Ibrahim, dalam talkshow "Dealing with Conflict in Workplace" bersama Rexona, di Djakarta Theater Lounge, Rabu (20/4/2011) lalu.

Untuk mengontrol kepanikan, mulailah dengan menarik nafas yang dalam saat masalah muncul. "Kalau memang harus diam, lebih baik diam, dan berpikir sejenak," ujar Ratih.

Ia menyarankan untuk menggunakan aromaterapi agar tubuh lebih cepat tenang. "Indra penciuman adalah indra yang paling cepat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Aromaterapi membantu menetralkan emosi yang tidak stabil, yang muncul akibat kepanikan dan stres berkepanjangan setelah konflik muncul," jelas perempuan yang juga direktur Personal Growth, layanan konsultasi psikologi, ini.

Ratih menambahkan, jika kepanikan sudah bisa diatasi, konflik bisa dihadapi dengan menyiapkan langkah-langkah antisipatif terhadap masalah. "Logikanya yang jalan, bukan perasaan yang didahulukan. Jadi kita memiliki banyak alternatif untuk penyelesaian masalah, " tambahnya.

Konflik juga bisa dihadapi jika kita memiliki tingkat fleksibilitas terhadap masalah, karena memaksakan orang lain menerima sudut pandang kita membuat konflik akan semakin rumit. "Mampu melihat masalah dari berbagai sudut pandang akan membantu pikiran kita lebih terbuka," ungkap Ratih.

Selain itu, memiliki jiwa yang tangguh, sehat, dan mantap, bisa membantu kita untuk siap menghadapi masalah seberat apapun. "Kalau ada masalah, hadapi, bukan hindari. Dihindari kemanapun juga tidak akan selesai," jelasnya.

Menurut Ratih, seseorang tidak akan berubah apabila dirinya sendiri tidak mau mengubahnya. "Butuh keinginan dan komitmen yang kuat untuk bisa konsisten mengatasi masalah dengan meminimalisasi kepanikan, dan melakukan berbagai persiapan, baik dari segi fisik maupun mental," tutup Ratih.

Sumber: kompas.com