Ooow... Sistem SKS Banyak Kendalanya!

26 Agustus 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA - Penerapan sistem satuan kredit semester (SKS) di tingkat SMP dan SMA sederajat menemui banyak kendala. Kendala paling besar adalah pemerintah mendorong sekolah untuk menerapkan sistem SKS, tetapi di sisi lain pemerintah tidak siap dengan konsekuensinya.

Demikian rangkuman pendapat sejumlah pemimpin sekolah di sejumlah daerah mengenai kebijakan pemerintah untuk menerapkan sistem SKS di jenjang pendidikan SMP/SMA sederajat, Rabu (25/8/2010).

Cara belajar SKS memungkinkan siswa menyelesaikan studi lebih cepat, yakni 4-5 semester dari yang idealnya 6 semester. Sebab, siswa dapat mengambil jumlah SKS sesuai dengan indeks prestasi yang diperoleh. Siswa juga bisa memperbaiki nilai yang belum memenuhi standar pada semester pendek semasa liburan sekolah.

Nursyamsuddin, Humas SMAN 78 Jakarta, mengatakan, siswa yang bisa tuntas selama lima semester bisa mencapai 40 persen. Namun, siswa yang selesai pada semester ganjil itu tidak bisa dinyatakan lulus karena harus menunggu pelaksanaan ujian nasional (UN) yang hanya dilaksanakan pada semester genap.

SMAN 78 Jakarta yang berkategori rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) ini merintis cara belajar SKS sejak 2007. Kelas-kelas yang ada di sekolah ini disesuaikan dengan mata pelajaran yang ada.

Siswa dinyatakan lulus jika telah menyelesaikan beban 116 SKS untuk 13 mata pelajaran. Namun, siswa yang lulus cepat ternyata sering menemui kendala saat mendaftar ke perguruan tinggi lewat jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) karena tidak semua perguruan tinggi memahami sistem SKS di SMA. (ELN)

Sumber: edukasi.kompas.com