Ny Rina, UN, dan Stres Anaknya

29 Januari 2010 Berita Pendidikan


"Mah, aku stres. Habis ujian ini aku ingin ke laut, ke pantai. Kita berdua pergi ke laut, ya, Mah?".

Kalimat itu masih terekam jelas di benak Ny Dyah Rina, (40). Kalimat yang meluncur dari mulut putrinya seusai belajar menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun lalu. "Kalau nanti sampai di sana, aku mau teriak sekencang-kencangnya, Mah, biar bisa bebas, biar lepas," ucap Rina, meniru dan meneruskan kalimat anaknya itu.

Rina menceritakan, pada 2009 lalu, putrinya memang mengikuti UN dan mengaku stres bukan main. Namun yang terjadi, bukan hanya putrinya yang stres, dia pun mengaku demikian.

"Saya stres melihat dia stres. Memang, belajarnya luar biasa rajin waktu itu, tetapi lama-lama kok jadi kasihan, karena seperti ada tekanan dalam dirinya, ya?" ucap Rina ditemui di sela Diskusi Publik: Penyelenggaraan Ujian Nasional sebagai Alat Evaluasi Keberhasilan Pendidikan di Jakarta, Kamis (28/1/2010).

Perempuan berprofesi guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta ini mengatakan, dirinya tidak habis pikir melihat perubahan dalam diri anaknya itu sejak duduk di bangku kelas tiga SMA. Diakuinya, putrinya memang tidak tergolong anak terpintar di kelas.

"Kecerdasannya biasa-biasa saja, karena memang belajarnya tekun dan dia itu anak yang ceria. Tapi, ketika mulai menghadapi UN, dia berubah," tutur Rina.

Tujuan pendidikan

"Apakah benar untuk semua hal seperti ini anak saya belajar, haruskah untuk punya prestasi belajar itu perlu mengalami stres yang bukan karena proses belajarnya melainkan deg-degan karena takut tidak lulus?" ujar Rina.

Dia mengatakan, UN benar-benar mengubah pola hidup anaknya dan cara pandang anaknya tentang belajar. Belajar adalah kegiatan mengerjakan soal-soal yang akan dihadapinya di UN. Bukan seminggu, tapi selama berbulan-bulan, sampai tiba waktunya UN datang dan kian menambah beban stres anaknya.

"Pada akhirnya saya berpikir, tujuan pendidikan dengan adanya UN di akhir masa pendidikannya justeru tidak memberikan apa-apa kecuali nilai-nilai di atas kertas," kata dia.

Rina mengakui, putrinya yang saat itu sekolah di SMAN 47, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, memang lulus UN. Bahkan, kata dia, setelah itu anaknya diterima masuk di Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Tapi terus terang saja, waktu itu tidak ada passion learning di dalam diri anak saya, melainkan stress learning. Ya, anak saya belajar dalam kondisi tertekan dan stres karena ingin lulus, bukan belajar dengan penuh semangat dan keceriaan," tambahnya.

Penulis: LTF/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com