Nasib Pendidikan Anak- Anak di Pengungsian Belum Jelas

28 Oktober 2010 Berita Pendidikan


MAGELANG - Nasib pendidikan anak-anak korban bencana alam Merapi di 39 tempat penampungan sementara (TPS) dan tempat penampungan akhir (TPA) yang tersebar di Kabupaten Magelang masih belum jelas.

Demikian pula dengan siswa maupun murid yang gedung sekolahnya -hingga kini- masih dijadikan sebagai TPS/ TPA guna menampung ribuan warga yang harus mengungsi. Hal ini terkait dengan belum pastinya kapan aktivitas Gunung Merapi tidak membahayakan lagi.

Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang masih mendata berapa jumlah murid dan siswa sekolah yang tinggal di TPS maupun TPA. Pun demikian dengan fasilitas pendidikan yang digunakan untuk pengungsian warga.

Hasil rakor internal muspida Kabupaten Magelang masih merencanakan beberapa kemungkinan langkah- langkah yang akan diambil jika situasi membahayakan di sekitar lereng Merapi masih bertahan dalam waktu yang lama.

"Kalau beberapa sekolah sementara diliburkan dua sampai tiga hari untuk menampung pengungsi saya pikir masih wajar. Namun kalau situasi yang memburuk ini masih bertahan lama kami harus siapkan langkah- langkah antisipasi," ujar Wakil Bupati magelang, M Zaenal Arifin, Rabu (27/10).

Dalam rakor, jelas Zaenal, masih dibahas beberapa kemungkinan untuk menangani anak- anak sekolah yang tinggal di pengungsian. terutama jika status Awas merapi masih berlangsung lama.

Hal ini untuk mengupayakan pendidikan anak-anak di pengungsian ini tak terlantar. Di antaranya mendatangkan guru- guru untuk melaksanakan proses belajar mengajar darurat di pengungsian. "Prinsipnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah memulihkan mental dan psikis anak-anak sekolah ini setelah sebelumnya dicekam ketakutan akibat letusan gunung Merapi," imbuhnya.

Zaenal berharap, situasi di lereng Gunung Merapi secepatnya akan berangsur-angsur membaik, sambil menunggu petunjuk resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta.

Sumber: republika.co.id