Multimetode Dorong Sikap Kritis

1 September 2009 Berita Pendidikan


Mengajak siswa belajar bukan hanya dengan cara menghapal atau mengungkapkan apa yang mereka ketahui di depan kelas. Guru bisa menggunakan cara atau metode lain seperti menghadirkan benda ajar melalui praktikum, baik di dalam maupun di luar kelas.

Alif Noorhidayati, salah seorang widyaiswara di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jateng mengatakan, untuk memperoleh mutu belajar mengajar yang lebih baik guru bisa menggunakan komunikasi ilmiah seperti representasi ilmu pengetahuan dalam bentuk poster, permodelan, dan multimedia.

Konsep yang diusung Alif dalam penelitian berjudul "Representasi Pengetahuan: Program Pembelajaran TOT Berorientasi Higher Order Learning Skills dan Pengaruhnya pada Performance Guru Pemandu MGMP" tersebut mengantarkan dirinya masuk dalam sepuluh besar widyaiswara terbaik tingkat nasional.

Dalam lomba yang digelar pada 7-13 Agustus di Cisarua, Bogor, Alif menyisihkan 200 peserta dan menduduki peringkat kesepuluh. "Konsep ini adalah penjabaran dari teori Haladyna yang terdiri atas creative thinking, critical, dan problem solving," ujar alumnus Unnes tersebut.

Dia memaparkan, konsep yang baru dikembangkannya dalam mata pelajaran Biologi itu berusaha menciptakan guru pemandu MGMP dalam kondisi pembelajaran analisis, evaluasi, dan kreatif.

Selain permodelan atau menghadirkan bahan ajar dalam pembelajaran, seyogianya guru menggunakan multimedia sebagai sumber bahan ajar. "Siswa diajak belajar dengan mencari sumber dari internet. Jadi tidak cuma mengandalkan bahan yang diajarkan oleh guru," katanya.
Pe.ta Ajar Untuk mengembangkan kualitas, lanjut Alif, guru juga dianjurkan untuk membuat poster atau semacam peta ajar yang berfungsi untuk mengembangkan isi bahan ajar. Peta ajar adalah bentuk aktualisasi pemahaman literatur yang dideskripsikan dalam bentuk skema atau bagan. "Bagan atau skema yang bagus adalah bilamana dengan sekali membaca, orang bisa langsung tahu isinya. Itu gunanya peta pikiran, jadi untuk lebih memperjelas," imbuhnya.

Konsep pembelajaran tersebut akan mulai disosialisasikan pada bulan September oleh 120 guru TOT yang memandu mata pelajaran Biologi SMA se-Jateng ke MGMP masing-masing.

Kemudian sosialisasi akan berlanjut di sekolah masing-masing. "Sosisalisasi ini akan didampingi oleh widyaiswara," imbuh wanita yang tahun lalu juga meraih widyaiswara terbaik.

Untuk mengaplikasikannya, para guru akan menghadapi kendala seperti tidak adanya dukungan dari sekolah maupun motivasi dari dalam diri. "Hasilnya akan bergantung pada kemampuan guru. Konsep ini bagus diterapkan karena multimetode yang digunakan akan dapat membuat pikiran jadi kritis," tegasnya. (J8-45)

Sumber: Suaramerdeka.Com