MOS Sekolah Negeri Tak Kreatif

16 Juli 2010 Berita Pendidikan


Dinas Pendidikan Surabaya resmi menutup pelaksanaan masa orientasi siswa (MOS), Rabu (14/7) kemarin. Beberapa hal yang jadi catatan pelaksanaan MOS di sekolah negeri jauh dari kreativitas ketimbang sekolah swasta yang marak dengan berbagai kegiatan menarik.

Dari pantauan tim Dewan Pendidikan Kota Surabaya menunjukkan di sekolah-sekolah negeri, pelaksanaannya adem ayem. Bahkan cenderung membosankan. Di sekolah swasta, keadaannya jauh berbeda karena pelaksanaannya lebih menyenangkan. Bahkan di sekolah RSBI, tak ada pengenalan bahwa pendidikan di sekolah ini menggunakan sistem bilingual. Ini kan aneh, kata Ketua II Dewan Pendidikan Kota Surabaya Isa Ansori, Kamis (15/7).

Dewan Pendidikan juga memantau kekerasan masih kerap terjadi dalam pelaksanaan MOS di SMK, seperti di SMK Dr Soetomo. Meski tak ada kekerasan fisik, di SMK Dr Soetomo 600 siswanya diwajibkan mengenakan atribut khusus. Untuk siswa, mereka diwajibkan membuat topi dari bola plastik yang diberi rambut dari tali raffia berwarna kuning dan ungu. Sementara siswi sekolah yang beralamat di Jl Jojoran I ini diharuskan mengepang rambutnya lantas diberi ikatan 12 tali raffia berwarna kuning dan ungu.

Di lapangan, kata Isa, bentakan sendiri masih terjadi terutama ketika pihak panitia memberikan arahan kepada para siswa. Menurutnya, kekerasan lisan sudah masuk dalam kategori kekerasan pada anak. Hal ini menunjukkan surat edaran yang dikeluarkan Dispendik tak mempan saat diterapkan di lapangan.

Namun sorotan Dewan Pendidikan Surabaya langsung dijawab Kepala SMK Dr. Soetomo Juliantono yang punya pendapat berbeda. Dia mengatakan kegiatannya masih dalam tahap wajar dan berkilah aneka atribut tersebut untuk menumbuhkan keberanian dan kreativitas dalam diri siswa. Apalagi kan kemarin habis ada even Piala Dunia, jadi mereka senang kok, tandasnya. sit

Sumber: surabayapost.co.id