Minat Studi Bahasa Indonesia di Belanda Berkurang

6 Desember 2010 Berita Pendidikan


LEIDEN - Tanggal 30 November 2010 lalu Universitas Leiden menggelar Meja Indonesia yang ke-10. Meski yang hadir tidak sebanyak pada edisi ke-9 lalu, penyelenggaranya tetap puas. Siapa saja yang hadir?

Menurut Suryadi, dosen Bahasa Indonesia di Jurusan Asia Tenggara dan Oseania, Universitas Leiden, Meja Indonesia merupakan ajang pertemuan antara para mahasiswa dan alumni sastra Indonesia di Universitas Leiden untuk melatih kepandaian berbahasa Indonesia mereka.

Dalam kesempatan itu mereka bisa berjumpa dengan anggota masyarakat lain yang bisa berbahasa Indonesia, termasuk warga Indonesia yang tinggal di Belanda. Saat ini di Belanda, terutama di Leiden, banyak sekali mahasiswa Indonesia yang melakukan berbagai studi dan penelitian.

Promosi Bahasa Nasional Indonesia
"Karena kesempatan di kelas sangat terbatas," jelas Suryadi, ketika ditanya kenapa perlu menggelar pertemuan khusus seperti ini. Namun dosen asal Minangkabau ini menambahkan, yang penting pula adalah Meja Indonesia merupakan kesempatan untuk mempromosikan bahasa nasional Indonesia.

Berbicara soal masa depan studi Bahasa Indonesia di luar negeri, Suryadi mengungkapkan sedikit rasa prihatinnya terhadap perubahan yang terjadi. Perubahan itu dapat dilihat bukan hanya di Belanda saja, tapi di luar negeri pada umumnya.

"Perubahan yang signifikan adalah bahwa di Eropa umumnya atau di dunia saya kira dan di Belanda khususnya minat untuk belajar bahasa Indonesia sedikit berkurang," tandasnya.

Tapi di Leiden jumlah mahasiswa sastra Indonesia masih cukup banyak. Setiap tahunnya sekitar 15 sampai 20 orang mahasiswa baru mendaftar. "Dan mereka biasanya mengambil berbagai bidang: bahasa, sastra, ekonomi dan lain-lain sebagainya," tutur Suryadi.

Magang di Indonesia
Suryadi menambahkan bahwa para mahasiswanya di tingkat BA (Bachelor of Arts) banyak yang mau melakukan magang di Indonesia. Tujuan magang adalah untuk mencari pengalaman dalam realitas kehidupan. Mereka bisa magang di mana saja seperti di LSM, di lembaga pemerintah seperti Kemlu dan malah di lingkungan nelayan.

Suryadi pun mengimbau masyarakat, pemerintah, LSM dan lain-lain di Indonesia untuk memberi kesempatan magang bagi para mahasiswanya. Untuk itu mereka bisa mengirim email ke: s.suryadi[at]hum[dot]leidenuniv[dot]nl

Para mahasiswa asing
Mark Stadler, mahasiswa S2 Bahasa Indonesia di Universitas Leiden adalah di antara mahasiswa asing yang studi bahasa Indonesia. Ia mengawali kuliah bahasa India di pertengahan tahun 2006, merupakan studi S1 di Jerman.

Menurut Mark, mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di Jerman lebih banyak ketimbang di Belanda. Maklum negara tetangga Belanda itu penduduknya lebih banyak. Mark menambahkan tujuan mahasiswa Jerman belajar Bahasa Indonesia adalah tujuan ekonomi. "Kalau di Belanda, motifnya lebih banyak budaya," katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat fasih.

Tentu saja banyak orang Belanda yang mengikut studi Bahasa Indonesia di Leiden. Misalnya Rodney Westerlaken yang kini sedang menulis thesis tentang sejarah Bali. Tidak aneh kalau ia memilih topik ini. Karena ia punya pacar perempuan Bali. Karena perempuan iniah ia terdorong untuk studi Bahasa Indonesia.

Ikut hadir pada pertemuan itu adalah Profesor Hein Steinhauer, pensiuan guru besar di studi Bahasa ini. Pengarang kamus bahasa Belanda-Indonesia ini menganggap Meja Indonesia ini gagasan baru. Ia mengatakan, di zaman ia masih aktif menjadi dosen, kegiatan ini belum ada.

Sumber: republika.co.id