Mereka Meneliti, dari HP Anti Maling Sampai Sirup Buah Bakau...

19 November 2009 Berita Pendidikan


Selain menampilkan berbagai poster untuk dinilai dewan juri, sebanyak 89 peserta Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2009 memamerkan hasil penelitiannya. Unik, kreatif, dan punya nilai jual.
Di salah satu sudut Plaza Gedung Depdiknas, Jakarta, misalnya, seorang siswi peserta dari SMA Unggulan BPPT Al Fattah, Lamongan, Jawa Timur, tengah dikerumuni pengunjung, yang rata-rata siswa-siswi SMA. Siswi bernama Frida Fanani tengah itu sibuk menerangkan hasil penelitiannya berupa "Mesin Cuci Listrik".

Tak jauh dari tempatnya, sebuah stan peserta lain juga tidak kalah heboh. Stan milik Madrasah Aliyah (MA) Matholi'ul Anwar atau Mawar tersebut menampilkan poster dan hasil penelitian berupa "Handphone Anti Maling".

"Jangan salah sangka dulu, ini bukan handphone yang anti dicuri orang, tetapi handphone sebagai alat anti curanmor (pencurian motor)," tutur M Masruhan, satu dari tiga siswa kelas III IPA Mawar yang melakukan penelitian ini.

Masruhan menerangkan, "HP Anti Maling" tersebut dibuatnya dengan memanfaatkan telepon genggam untuk menggantikan alarm pada motor. Untuk membuat alarm itu, lanjut dia, membutuhkan dua buah ponsel. Satu ponsel ia koneksikan dengan accu dan CDI sepeda motor, sedangkan ponsel satunya dipakai sebagai ponsel biasa untuk menerima sinyal alarm.

"Begitu dicuri dan pencuri berhasil menarik tuas gas, secara otomatis saklarnya akan memberi panggilan masuk ke ponsel penerima sinyal atau pemilik motor. Seperti bunyi panggilan masuk biasa," terang Masruhan.

Lain dan uniknya penelitian Masruhan, lain pula dengan Yosephine. Bersama rekannya, Jessica K, siswi kelas III IPA SMA Cita Hati, Surabaya, Jawa Timur, ini memamerkan hasil penelitiannya yang sederhana berupa "Mangrove Syrup". Penelitian yang dilakukan pada Agustus 2009 lalu itu adalah proses pembuatan sirup dari buah bakau yang banyak tumbuh di kawasan Pantai Kejawan Tambak, Kelurahan Mulyorejo, yang tak jauh dari sekolah mereka.

"Sebetulnya tidak sengaja, yaitu saat sekolah kami melakukan kegiatan penanaman Mangrove. Buah bakau ini rasanya kecut, dan kami pikir, kenapa hanya melakukan penanaman saja, kenapa tidak melakukan hal lain seperti memanfaatkan buahnya," tutur Yosephine.

Lalu, dibawalah buah-buah tersebut untuk diteliti di sekolah. Laiknya sebuah home industry, kisah Yosephine, mereka berdua pun mulai meracik buah tersebut, mencampurnya dengan air dan menambahkan gula sebagai pemanis. Jadilah, sirup buah bakau yang manis.

"Dengan melakukan pasteurisasi bertingkat dan sterilisasi, sirup ini tahan hingga dua bulan, silakan dicoba," ujarnya sambil terkekeh.

"Entrepreneur spirit"

Baik Frida, Masruhan, maupun Yosephine sama-sama mengakui bahwa penelitian yang mereka lakukan masih sederhana. Semua bermula dari ide yang sederhana, serta dikerjakan dengan peralatan yang juga sederhana sehingga masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk dijadikan komoditas.

Pengakuan dari Masruhan ini, misalnya. Dia mengatakan, selain ada dari pihak Depdiknas yang ingin merekrut "Handphone Anti Maling" temuannya itu, sebuah produsen motor pun mengatakan, hasil penelitian tersebut sudah bisa dijual ke pihak luar.

"Tapi sejauh ini kami belum terpikir ke arah situ. Kami masih ingin berembuk dulu dengan teman-teman lainnya dan para guru untuk melanjutkan penelitian ini," ujar Masruhan.

Pun, demikian dengan Yosephine. Dia mengakui, semangat penelitiannya kali ini juga dilandasi dengan entrepreneur spirit. Alhasil, kata dia, masih perlu lebih serius lagi untuk membuat penelitian lanjutan sebelum "Mangrove Syrup" tersebut bisa dijadikan barang dagangan yang menghasilkan uang.

"Memang sudah sudah dihitung biaya produksinya, tetapi masih ada satu pekerjaan lagi sebelum sampai ke proses tersebut, yaitu menyiapkan penelitian ilmiahnya untuk meghitung bakteri pada fermentasinya," ujarnya.

LTF/Editor: latief

Sumber: Kompas.Com