Menghalalkan Kalkulator

20 Oktober 2010 Berita Pendidikan


Benarkah kalkulator akan membuat siswa menjadi bodoh? Mengapa kalkulator dilarang penggunaannya di sebagian sekolah? Itulah mungkin sekelumit pertanyaan yang akan hinggap di dalam pikiran kita ketika menyimak semakin banyaknya guru melarang penggunaan kalkulator pada proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.

Belum ditemukan adanya korelasi antara penggunaan kalkluator terhadap kecerdasan berhitung. Justru yang terjadi adalah kebalikannya, dimana kalkulator mampu meningkatkan pembelajaran matematika di sekolah. Sebagaimana hasil penelitian seorang profesor dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yaitu Prof Dr HET Russefendi.

Dalam penelitiannya disebutkan bahwa dengan menggunakan sampel siswa-siswa SD ditemukan korelasi yang menarik antara penggunaan kalkulator dengan peningkatan pembelajaran matematika di sekolah. Ternyata penggunaan kalkulator mampu meningkatkan pembelajaran matematika di kelas.

Kalkulator adalah sebuah alat hitung yang kian marak digunakan. Dengan menggunakan kalkulator sebuah perhitungan matematika yang rumit dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat. Sehingga, hal itu akan mempermudah pengerjaan yang berkaitan dengan penghitungan matematika.

Kita tidak bisa membatasi penggunaan kalkulator disebabkan kalkulator memang alat hitung yang cukup efektif dan efisien. Kalkulator dapat menghitung sebuah perhitungan sederhana seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Bahkan, pada kalkulator sains mampu menghitung beberapa operasi matematika yang cukup rumit seperti statistik. Dan kalkulator semakin hari semakin fleksibel serta mudah dibawa kemana pun juga. Bahkan kalkulator pun sudah tersedia pada handphone.

Dengan ditandatanganinya perjanjian Asian-China Free Trade Agreement (ACFTA), maka produk-produk elektronika bangsa China bisa masuk pasar Indonesia dengan leluasa, salah satunya adalah kalkulator yang murah.

Oleh karena itu China dituding sebagai negara yang berusaha membuat bodoh negara kita dengan mengekspor kalkulator dalam jumlah yang banyak. Padahal di negeri China sendiri untuk alat berhitumg masih menggunakan metode tradisional yaitu sempoa.

Demikianlah tudingan yang diutarakan oleh pengamat matematika dan direktur Yayasan Sempoa Pratama Indonesia di Mamuju Sulawesi Barat, sebagaimana dikutip oleh situs kompas.com.

Sebenarnya kita tidak harus bersikap apatis menyikapi maraknya penggunaan kalkulator dalam proses KBM. Sebab bagaimanapun juga kalkulator memiliki berbagai kelemahan layaknya sebuah alat buatan manusia. Kelemahan itu adalah seperti terbatasnya jumlah digit dalam kalkulator. Dalam kalkluator biasanya tersedia jumlah digit di antara sembilan hingga sebelas jumlah digit, tergantung jenis kalkulator tersebut. Apabila hasil perhitungan melebihi jumlah digit tersebut maka kalkluator akan mengalami error. Sehingga masih diperlukan penghitungan secara manual.

Ataupun, seperti menghitung nilai suatu logaritma dengan bilangan basis bukan sepuluh. Dalam kalkulator bilangan basis yang digunakan adalah sepuluh, maka jika bilangan basis yang digunakan bukan sepuluh harus diuraikan terlebih dahulu dengan menggunakan rumus matematika.

Kalkulator merupakan sebuah perkembangan teknologi yang akan mengubah budaya tradisional menjadi modern. Dimana dalam kehidupan modern dibutuhkan kecepatan dan ketepatan. Sehingga tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan revolusi dalam pembelajaran matematika di sekolah. Seperti terjadinya revolusi industri setelah ditemukannya mesin uap oleh James Watt.

Sejatinya guru tidak "mengharamkan" kalkulator sebagai alat hitung, akan tetapi yang perlu mendapat perhatian kita semua adalah waktu penggunaan kalkulator tersebut. Seperti tidak menggunakan kalkulator ketika sedang melaksanakan evaluasi dan latihan soal. Sebaliknya, justru guru harus mampu mempelajari manfaat dari sebuah kalkulator tidak hanya sebagai alat hitung sederhana saja.

Sumber: tribunjabar.co.id