Mengapa Melanjutkan Studi ke Jepang? (Bagian III-Habis)

18 Januari 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA, KOMPAS.com - Sangat mungkin, bagi mereka yang tidak mampu membayar uang sekolah dan tidak punya beasiswa untuk bebas uang kuliah. Hanya syaratnya, yang bersangkutan harus mendaftarkan diri untuk berhak mendapatkan keringanan atau bebas uang kuliah.

Di Tokyo Institute of Technology, misalnya, atau mungkin juga di universitas lain. Mahasiswa program S-3 akan diberikan tunjangan sebagai teaching assistant. Besarnya uang yang diterima hampir sama dengan beasiswa Monbukagakusho, yaitu sekitar 160 ribu yen per bulannya.

Bagi yang tidak mengajukan aplikasi permohonan gratis uang sekolah pun tidak perlu berkecil hati. Dengan modal arubaito (kerja paruh waktu), sangat mungkin untuk membayar uang sekolah. Sebutlah, misalnya mengantarkan koran pada pagi dan sore hari, Anda bisa bergaji 150 ribu yen perbulannya atau sekitar Rp 15 juta. Sementara uang sekolah di negeri hanya sebesar 270 ribu yen persemester.

Masih mau menunda pembayaran kuliah? Kenapa tidak, sebab hal itu pun bukan mustahil terjadi, karena pembayaran masih bisa dilakukan hingga hampir masuk semester baru berikutnya. Jadi, universitas sangat tidak kibishi (kaku) dalam urusan pembayaran uang sekolah. Semuanya bisa dikompromikan dan dimusyawarahkan.

Daya tarik lain

Tentunya, masih banyak hal-hal positif atau daya tarik lain yang akan membuat orang senang memilih Jepang sebagai negeri untuk tujuan studinya. Ya, mulai dari besarnya beasiswa yang umumnya bisa membuat makmur penerimanya, kebijakan negara dan sekolah (universitas) yang membuat mahasiswa dapat belajar dengan baik, atau sistem bimbingan profesor yang tidak menyulitkan mahasiswa.

Atau mungkin, ketertarikan karena ingin mendapatkan pekerjaan dengan mudahnya di Jepang? Masih panjang lagi rincian lainnya, termasuk menimba ilmu dari sistem dan peradaban bangsa Jepang untuk kita teladani. Maka, dengan segala paparan di atas, tidakkah Anda tertarik untuk belajar di Jepang?

Penulis adalah alumni Tokyo Institute of Technology dan Peneliti di Aku Cinta Indonesia Kita (ACIKITA) di Tokyo, Jepang

sumber: kompas.com