Mengajar Kreatif, dari Uang Palsu Sampai Tanaman Obat

16 Desember 2009 Berita Pendidikan


TARAKAN, KOMPAS.com Di pedalaman, guru tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas di sekolah, yang selama ini pun sangat minim, untuk menyampaikan materi ajar pada siswa. Untuk itu, guru harus kreatif membuat (Rancangan Pengembangan Pembelajaran) berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menjadi pedoman mereka mengajar di sekolah.

Sugimun, guru Matematika di SMP Negeri 1 Lumbis, Nunukan, Kalimantan Timur, misalnya. Untuk menerapkan standar kompetensi aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linear, serta perbandingan pemecahan masalah, Sugimun mengajak siswanya "berdagang". "Saya menerapkan belajar sambil bermain jual beli, di mana siswa diajak mengerti cara menghitung diskon atau rabat," terang Sugimun, salah satu peserta Lokakarya Pengembangan Profesionalisme Guru dan Kepala Sekolah Angkatan V-Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diselenggarakan oleh Tanoto Foundation di Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (15/12/2009).

Oleh Sugimun, siswa yang rata-rata kelas II dan III SMP itu dipecah dalam kelompok yang masing-masing satu kelompok terdiri dari 5 siswa. Ada siswa yang berperan sebagai sales (penjual), pembeli, penjaga etalase barang jualan, hingga bagian kasir. Siswa pun dibebaskan menjual barang apa saja, lanjut Sugimun. Namun, barang-barang tersebut harus yang kerap dibeli oleh siswa dan berlabel potongan harga atau diskon, mulai dari tas, jaket, kaus, dan sepatu. Dia beralasan agar product knowledge siswa lebih baik sehingga akan memudahkan penghitungan. "Yang penting semua barang harus dilabeli diskon, terserah mau diskon 5 persen, 10 persen, atau 50 persen, yang penting diskon," tambahnya.

Kemudian, lanjut Sugimun, siswa dibekali uang dan melakukan transaksi. Di sinilah para siswa "belajar" secara tak sadar mengenai aritmatika sosial yang sederhana. "Siswa bahkan sampai membuat uang palsu sebagai alat bayar, cuma ini memang untuk belajar di sini saja," ujarnya seraya terbahak.

Sebagai tolok ukur keberhasilan siswa menyerap pelajaran, Sugimun lalu memberikan tes kepada siswa berupa presentasi dan tes tulis sebanyak 5 soal tentang penghitungan rabat tersebut. "Targetnya mereka memang mengerti bagaimana cara menghitung diskon, dan sebagai pendekatan kontekstual, ternyata cara ini sangat efektif mengenalkan siswa pada aritmatika," ujar Sugimun.

Alat peraga

Menurut pemerhati pendidikan Anita Lie, berdasarkan pengamatannya pada lokakarya dan pelatihan guru-guru tersebut, ternyata masih banyak guru yang belum bisa membuat Rencana Pengembangan Pembelajaran (RPP) untuk menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menjadi pedoman mengajarnya.

Guru Besar Unika Widya Mandala ini mengatakan, siswa akan sulit menyerap jika materi ajar hanya diberikan dalam bentuk dikte atau menyalin. Selain monoton, hal itu tidak akan memancing gairah siswa untuk memahami mata pelajaran. "Ada guru yang bahkan sudah bertitel sarjana minta saya buatkan RPP, itu artinya guru tersebut tidak siap memberikan pemahaman yang baik untuk siswa," ujarnya.

Memang, kata Anita, dibutuhkan kreativitas tinggi untuk menerapkan RPP yang bisa sesuai KTSP dan mudah diterima oleh siswa. Toh, kata dia, RPP tidak mengekang guru atau sekolah untuk mengeluarkan modal besar demi mendukung pelaksanaannya seperti kebutuhan alat peraga.

Markus Madun, guru SDN 007 Sebuku, Desa Sekikilan, yang masih termasuk wilayah Kabupaten Nunukan, misalnya. Untuk memberi pemahaman tentang perhitungan pada bentuk-bentuk bangun datar atau jajaran genjang, Markus bahkan membuat puluhan kertas karton kecil-kecil yang dibuatnya mirip bentuk-bentuk bangun tersebut.

Bahkan, demi mendukung kemudahan siswa mengaplikasikan mata pelajaran Biologi, Eko Andayani, Kepala SMPN 1 Sesayap, Tanah Tidung, membuat silabus pengembangan diri siswa berupa Program Tanaman Obat Keluarga. "Selain menjadi program sekolah, silabus ini juga diterapkan sebagai kampanye menanam kepada siswa sebagai pengembangan diri dalam mata pelajaran muatan lokal," ujarnya.

Editor: wsn Sumber: edukasi.kompas.com