Mendikbud Effendy: Sanksi Fisik Bisa Ditoleransi dalam Pendidikan

17 Agustus 2016 Berita Pendidikan


Kembali maraknya kasus kekerasan dalam dunia pendidikan memang menjadi bahasan yang tak ada habisnya. Seperti kekerasan yang baru-baru ini terjadi dan menimpa salah satu guru di SMK 2 Makassar.

Dewasa ini, guru menjadi serba salah dalam hal mendidik dan mendisiplinkan siswanya. Alih-alih Hak Asasi Manusia (HAM), orangtua kemudian tak berpikir dua kali dan bertindak bijak sehingga main hakim sendiri pun kerap menjadi aksi instan dan gegabah para orangtua yang tidak tahu sebab musabab yang sebenarnya terjadi.

Menilik kejadian tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, tindakan penganiayan yang terjadi kepada guru tidak bisa ditoleransi. Pasalnya, tindakan tersebut melanggar HAM.

Effendy menilai, hukuman fisik dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Maka seharusnya, orangtua hendaknya mengetahui perbedaan antara dua hal tersebut. Sebab pendidikan menurutnya bukan hanya tentang kasih sayang namun pembentukan keperibadian agar anak tahan banting,

Layaknya tentara yang tangguh, mereka telah melewati berbagai macam latihan serta disiplin sehingga menjadi seperti itu. Orangtua kini dituntut untuk memiliki pandangan akan tindakan guru dalam batas-batas tertentu.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang tersebut mengatakan bahwa yang terjadi sekarang adalah banyak yang salah paham dalam pemahaman HAM, Jadi tentang HAM melarang tindakan kekerasan itu setuju tapi dalam batas tertentu, sanksi fisik bisa ditoleransi dalam pendidikan.

Muhadjir mengimbau, masyarakat agar memahami peranan guru. Guru ada saatnya mengunakan tindakan kekerasan demi kebaikan anak. Kesalahpahaman orangtua dan guru sebaiknya dibicarakan. Pasalnya, di sekolah ada orang ketiga sebagai penghubung seperti komite dan kepala sekolah dengan tujuan tidak melakukan tindakan sendiri.

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari berbagai sumber)