Mau Berhenti Merokok? Gampang, Siapkan Minimal Rp 4 Juta

14 Juli 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Mau berhenti merokok?. Mudah saja, anda hanya perlu membayar Rp. 4 juta. Banderol harga yang dimaksud merupakan tarif minimal yang mencakup biaya konsultasi dokter dan psikologis, sharing session, terapi farmakologis hingga pemantauan melalui Customer Relationship Management (CRM). Terhitung mahal memang, tapi dinilai efektif guna membantu para perokok yang hendak berhenti merokok.

Direktur Operasional Sahid Sahirman Memorial Hospital, drg.Yusrahma Nurina, MARS mengatakan, tren terapi rokok belum begitu marak di Indonesia. Padahal terapi rokok, utamanya di dunia barat, sudah menjadi hal biasa. "Untuk Indonesia, terapi rokok belum begitu berkembang," kata dia kepada republika.co.id, seusai meresmikan Klinik Stop Merokok, RS Sahirman Sudirman, Jakarta, Rabu (13/7).

Dikatakan Yusrahma, kondisi itu tidak terlepas dari faktor kesadaran para perokok di Indonesia. Kesadaran itu juga terganjal oleh begitu lamanya waktu yang dibutuhkan mengikuti terapi dan kondisi lingkungan. "Yang utama memang kesadaran, itu yang belum ada di masyarakat kita," kata dia.

Di samping kesadaran, kata Yushrahma, minimnya minat terhadap terapi macam ini dominan tidak terlepas dari kemampuan finansial. Kemampuan finansial ini mengakibatkan terapi hanya diikuti masyarakat kelas menengah dan atas. Dengan demikian, masih perlu waktu untuk menjadikan terapi ini bisa merata disemua kalangan. "Memang butuh biaya lebih, jadi tak heran bila keberadaan terapi merokok di Indonesia terbatas," kata dia.

Potensi Kemudahan

Ketimbang berhenti merokok dengan usaha sendiri, terapi rokok, menghadirkan potensi kemudahan bagi perokok untuk berhenti. Sebab, dalam terapi ada semacam perubahan pola pikir soal rokok. Perubahan yang dimaksud diarahkan dengan pendekatan psikologis sehingga perokok tidak lagi ketergantungan. Sebab, persoalan terbesar dari perokok adalah masalah ketergantungan.

Melalui pendekatan psikologis seperti terapi sikap, kognitif dan interpersonal, serta pendekatan yang dilakukan pada alam bawah sadar maka akan tercipta kebiasaan, pemikiran dan prilaku yang baru. Nah, kondisi itu lantas didukung dengan keberadaan terapi berkelompok, dimana masing-masing individu perlu individu lain yang memiliki komitmen yang sama untuk berhenti merokok. "Perlu diingat, adanya kesamaan nasib dan niat akan memberikan pengaruh yang luar biasa dalam proses penyembuhan," kata dia.

Setelah pembenahan psikologis dilakukan, langkah selanjutnya adalah terapi pengalihan ketergantungan nikotin dan zat-zat lain yang terdapat dalam rokok melalui konsumsi obat non nikotin. Obat ini bekerja untuk mengurangi gelaka ketagihan lantaran pengurangan kadar nikotin dalam tubuh, dan pada saat yang sama menghalangi dampak nikotin ketika merokok. "Obat ini pengganti rokok," kata dia.

Cara kerjanya, papar Yusrahma, obat ini akan menempel pada reseptor nikotin dan bekerja dengan dua cara yakni melepaskan dopamin, hormon penenang, secara parsial dan menghalangi nikotin menempel pada reseptor sehingga mengurangi rasa nikmat yang ditimbulkan dari rokok jika pasien merokok kembali.

"Dalam terapi merokok, obat ini dikonsumsi secara bertahap, pada tiga hari pertama dikonsumsi sekali sehari, hari keempat dan ketujuh menjadi dua kali sehari dan terakhir dosisnya naik menjadi 1 mg yang dikonsumsi sekali sehari," kata dia.

Saat ini, hanya ada dua lokasi terapi rokok, yakni RS Sahirman Sudirman dan RSPP Persahabatan. Kondisi itu kontras dengan jumlah perokok Indonesia yang mencapai 62,8 juta jiwa. Apalagi dengan kuantitas demikian besar segera menghantarkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok no. 3 di dunia dan no.1 di ASEAN.

Sumber: republika.co.id