Mahasiswa UNY Rancang Pendeteksi Kandungan Boraks

30 Desember 2013 Berita Pendidikan


Kandungan bahan pengawet sintetis dalam makanan semakin merajalela. Bukan hanya pengawet mayat formalin yang dipakai, tetapi juga boraks dan bahan kimia lainnya banyak dijumpai pada makanan. Bahkan jajanan anak-anak sekolahpun saat ini sudah terkontaminasi bahan-bahan tersebut. Kondisi ini memunculkan keprihatinan tersendiri pada lima mahasiswa program studi (Prodi) Pendidikan IPA FMIPA UNY. Kelima mahasiswi ini bergulat di penelitian dan menghasilkan cara tes sederhana menguji kandungan boraks dalam makanan.

Sebuah Paper Test Kit Sederhana dibuat untuk menganalisis kandungan boraks dalam makanan. Alat itu dibuat oleh mahasiswa program studi Pendidikan IPA FMIPA UNY, meliputi Na’in Anggraeni, Lutfiyatul Fuadah, Wheny Anif, Rifqi Ramadani dan Dewi Sundari.

Sesuai dengan fungsinya, jelas Ketua Tim Peneliti Na’in Anggraeni, alat tersebut dibuat lantaran banyak ditemukan pemberitaan boraks yang digunakan sebagai pengawet makanan.

"Selama ini konsumen berhati-hati memilih makanan, takut mengandung boraks. Nah, untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya boraks dalam makanan, konsumen bisa menggunakan uji nyala alkohol," ujar dara kelahiran Purworejo 28 Oktober 1993 itu, saat ditemui Harianjogja.com, baru-baru ini.

Selain menggunakan alkohol, lanjutnya, dapat pula dilakukan pengujian kandungan boraks dalam makanan menggunakan indikator alami yaitu kunyit yang dikenal dengan kandungan kurkuminnya.

"Kunyit merupakan bahan alami. Ia bisa digunakan untuk menguji kandungan boraks dalam makanan. Adanya kurkumin dalam kunyit membuat kunyit dapat digunakan sebagai kit yang dapat digunakan untuk menganalisis kandungan boraks secara sederhana," terang Na’in tekun menggeluti bidang penelitian.

Oleh karena itu, lanjutnya, penelitian pembuatan paper test kit untuk analisis kadar boraks dalam makanan ini sangat diperlukan. Na’in menjelaskan, pembuatan paper test kit itu dilakukan dengan cara sederhana.

Langkah awal yang dilakukan adalah menumbuk kunyit hingga halus. "Kalau kunyit sudah halus, ditambah sedikit air, dan disaring didalam beaker glass. Air kunyit dalam beaker glass sebagian dituangkan pada petridish," terang gadis yang gemar membaca buku-buku motivasi itu.

Petridish adalah cawan berbentuk silinder ceper yang memiliki tutup.

Kemudian, kertas what-man atau kertas saring dicelupkan ke dalam petridis dan dibolak balik hingga semua permukaannya rata dengan air kunyit. Setelah itu, sambung Na’in, kertas what-man ditata di atas papan dan dikeringkan dibawah terik sinar matahari.

"Selanjutnya, lakukan langkah yang sama pada larutan kunyit dengan perbandingan 5 ml kunyit dan 1 ml air. Kemudian, lakukan uji daya kesensitivan paper test kit," ujar Na’in.

Dari pengujian yang telah dilakukan, kemampuan paper test kit sederhana ini adalah mendeteksi kandungan boraks pada makanan dengan kadar minimal 200 ppm. Semakin besar kadar ppm dari boraks maka semakin jelas warna coklat pada paper test kit.

Na’in mengharapkan pembuatan paper test kit sederhana ini dapat membantu masyarakat dalam meningkatkan sikap kehati-hatiannya dalam memilih makanan yang dikonsumsi.

Penggunaan paper test kit yang begitu mudah dapat membantu masyarakat melakukan pengujian di rumah tanpa harus pergi ke laboratorium. "Alat ini digunakan dengan membuat ekstrak dari makanan yang akan diketahui kandungan boraksnya, misalnya pada bakso," tukasnya.

Cara kerjanya juga sederhana. Bakso ditumbuk dan ditambahkan sedikit air sehingga ekstraknya dapat diambil. Kemudian diteteskan ke paper test kit apabila warnanya berubah menjadi coklat maka makanan mengandung boraks.

Paper test kit sederhana dapat mendeteksi kandungan boraks hingga 200 ppm. Sedangkan para pembuat bakso komersial biasa menambahkan boraks ke dalam adonan bakso dengan kadar 0,1 - 0,5 % dari berat adonan. "Jika dikonversikan ke dalam ppm menjadi sekitar 800-4000 ppm," kata Na’in.

Dia berharap, dengan adanya alat ini, masyarakat akan dapat meminimalisas konsumsi makanan yang mengandung boraks karena dapat menimbulkan pelbagai penyakit berbahaya bila sudah melebihi ambang batas di dalam tubuh manusia.

Oleh: Iman S
(Dikutip dari berbagai sumber)