Mahasiswa TP Bingung - Teknologi Pendidikan Profesional Itu Apa?

26 Agustus 2009 Berita Pendidikan


Waktu saya masuk bidang elektronik di salah satu universitas tahun 1971 saya kira ini pekerjaan elektronik biasa, seperti bekerja di perusahaan atua di pabrik. Saya tidak tahu ini akan merubah kehidupan saya selama hidup. Elektronik sudah hobi saya sejak umur 12 tahun, dan pada waktu itu hobiny adalah membuat Crystal-Set (radio memakai satu diode germanium).

Tahun 1971 saya bekerja di Fakultas Electrical dan Electronic Engineering, dan tugas kami pada waktu itu adalah membuat modul-modul untuk pembelajaran elektronik. Sering dosen akan mempunyai konsep yang mereka ingin mengajar dan perlu module untuk praktiknya. Kami biasanya membahas beberapa pilihan (option) dan membuat module sesuai dengan dosen merasa terbaik.

Tetapi, seperti sering di bidang pendidikan, yang kita merancang dalam teori tidak sesuai dengan kenyataan karena isu-isu kemanusiaan (human factors). Mengatasi isu-isu teknologi menarik, tetapi yang paling menarik adalah mengatasi tantangan-tantangan (the challenges) dan isu-isu kemanusiaan.

Yang saya paling suka di bidang elektronik maupun teknologi pendidikan adalah menghadapi tantangannya dan mengatasi dengan solusi yang cocok dan tepat.

Menurut saya ini profesionalisme, dan kita sebagai Ilmuwan Teknologi Pendidikan hanya dapat menjadi profesional kalau kita mempunyai kemampuan tinggi untuk mengatasi segala macam tantangan pembelajaran dengan teknologi yang cocok dan tepat.

Misalnya waktu saya mengajar elektronik dan topiknya arus, tegganagan, dan tahanan saya selalu membawa botol-botol plastik yang mempunyai lobang yang diisi air. Dengan model simple begini semua pelajar menanggap prinsipnya cepat karena mereka dapat melihat kenyataan dan rasain sendiri (main dengan airnya), dibanding menonton film atau media yang kurang memuaskan tujuan saya sebagai gurunya.

Dua (2) tahun yang lalu waktu saya mengajar bahasa Inggris di Australia, kalau ada isu yang perlu dijelaskan di luar perencanaan saya sering menggunakan mebel-mebel atau apa saja yang ada di ruangan sebagai teaching aid (bantuan pembelajaran). Misalnya prepositions - mengganti posisi kursi dan salah satu meja di kelas. Listening - saya cepat angkat HP saya dan ngomong keras seperti dalam stres Adu........ Strategi ini sangat mendapat perhatian semua pelajar dan mereka sangat rajin mendengar percakapannya. Setelah itu saya bertanya-tanya mengenai percakapannya, sangat efektif! Kadang-kadang ruang saya adalah sangat berantakan, tetapi guru-guru lain anggap saya guru yang profesional karena menggunakan semua resources yang ada, dan yang paling penting pelajar-pelajar adalah aktif dalm proses pembelajaran, maupun enjoy. Semuanya dapat digunakan untuk Teknologi Pembelajaran.

Peraga dan prop misalnya kertas yang dipotong-potong, kertas besar, realia (barang asli - di mana praktis), OHP (film OHP bagus karena pelajar dapat menyiapkan bahan cepat untuk presentasi dalam kegiatan kelompokan tanpa mahalnya teknologi tinggi yang prosesnya biasanya lebih lambat dan kurang fleksible (mobilitasnya)), Video - gampang di atur oleh guru dengan remote untuk setop, rewind, setel video tanpa suara (strategi yang sangat bagus untuk mengajar bahasa), dlllll.........

Ini namanya pembelajaran yang aktif dengan banyak variasi. Banyak pembelajaran spontan muncul dari pembelajaran di kelas yang kreatif, yang tidak dapat dicapaikan dengan programmed learning. Ini salah satu sebabnya kalau kita ingin mengajak pelajar kita menjadi kreatif; 1) kita sendiri harus mencontohkan kreativitas 2) memberi situasi pembelajaran di mana mereka dapat mengekspresikan kreativitasnya sendiri, tanpa limitasi dan batasan oleh medium pembelajaran (misalnya komputer). Perkembangan Social skills dan Group Skills juga adalah isu-isu yang sangat penting dan salah satu keuntungan besar dengan pembelajaran Berbasis-Kelas yang menggunakan teknologi yang cocok (Appropriate).

BTW: Salah satu fenomena yang saya sering menyaksikan yang saya merasa lucu sekali adalah pasangan yang lagi nikmat waktu berdua jarang ngomong, dua-duanya masing-masing sibuk SMS terus. Kelihatannya ngomong lewat jarinya lebih asyik daripada secara langsung. Apa ada implikasinaya long-term?

Terus terang, saya tidak dapat membayangkan generasi anak Indonesia yang kemampuannya terbatas sesuai dengan kemampuan pendidiknya untuk membuat program komputer. Sangat merugikan dan membatasi eksresi dan kreativitasnya menurut saya. Kapan Merdeka?

Sebagai Ilmuwan Teknologi Pendidikan (TPer Profesional) kita bertanggungjawab untuk memasitikan bahwa semua jenis teknologi dari yang paling sederhana (dan sering paling efektif), sampai yang paling canggih digunakan sebaik mungkin.

Kita tinggal di Indonesia di Planet Earth (Bumi) Sekarang dan keadaan kita di bidang pendidikan sangat memprihatinkan, dan kemungkinan kita dapat mulai menggunakan e-learning di semua sekolah umum masih sepuluh lebih tahun ke depan, dan negara-negara lain sangat ragu-ragu mengenai peran teknologi sebagai cara utama pembelajaran di sekolah TK-SMA3.

Apakah kita akan menunggu sampai prediksinya Ramal-Ramal Pendidikan dicapaikan atau tidak, atau kita mau berjuang dan mengatasi isu-isu menggunakan teknologi yang cocok untuk meningkatkan mutu pendidikan sekarang.

Waktu saya ke sini pertama kali tahun 1983 juga ada banyak Ramal Pendidikan yang menunjuk teknologi terbaru sebagai solusi pendidikan. Tetapi kita sampai di mana sekarang?

Sudah waktu untuk menjadi TPer yang Profesional dan bergerak untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara kita dengan semua sumber teknologi yang ada - sekarang!

Ayo, Maju Pendidikan Indonesia!

Sumber: Phillip Rekdale (Facebook)