Mahasiswa Harus Siap Hadapi Afta 2015

13 Desember 2013 Berita Pendidikan


ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya.

AFTA dibentuk pada waktu Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk.

Mewujudkan AFTA melalui: penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.

Produk yang dikatagorikan dalam General Exception adalah produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA, karena alasan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan produk-produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sugiharsono mengatakan, mendekati Asean Free Trade Area (AFTA) 2015, para mahasiswa harus mengetahui gambaran persaingan sebenarnya.

Di sisi lain, Sugiharsono mengakui, perusahaan negara tidak bisa terlibat dalam menentukan metodelogi pendidikan di kampus. Namun, bisa berbuat banyak bagi pendidikan, melalui penyediaan fasilitas mengajar yang layak.

Menurutnya, fasilitas mengajar itu bisa penyediaan laboratorium dan pengembangan perpustakaan. "Kami sendiri ingin sekali mengembangkan laboratorium bahasa ekonomi, agar para lulusan kami mampu bersaing di dunia global," kata Sugiharsono di Yogyakarta, Rabu 11 Desember 2013.

Sementara itu, Komisaris PT Pertamina Edy Hermantoro mengatakan, mahasiswa harus menyiapkan diri menghadapi tantangan dunia global. Semakin meningkatnya tenaga kerja muda Indonesia membuat persaingan semakin berat.

"Belum lagi persaingan tenaga kerja dengan negara anggota Asean dan di luar Asean membuat mahasiswa harus benar-benar meningkatkan kualitas lulusan supaya mampu bersaing," jelasnya.

Edy mengakui, dana pendidikan yang ada belum mampu meng-cover seluruh kegiatan pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah kurangnya dana bagi penelitian. Selain itu, royalti sebagai wujud penghargaan bagi peneliti Indonesia pun belum dapat dikatakan layak.

"Minimnya anggaran penelitian jangan mematahkan semangat. Sebab kami memiliki CSR yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan pendidikan," imbuhnya.

(Dikutip dari sindonews.com)