Luncurkan Program Revitalisasi SMK di Surakarta, Kemendikbud Bagikan KIP

2 Juni 2017 Berita Pendidikan


Kemendikbud terus mendorong pemerataan dalam pendidikan sebagai upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Selain penguatan karakter, peningkatan akses pada layanan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) dan Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi program prioritas Kemendikbud dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif dan berdaya saing. Bertempat di Stadiun Manahan Kota Surakarta, Kemendikbud membagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada 1.857 siswa yatim piatu dan siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu di wilayah Surakarta, sekaligus meluncurkan secara resmi program Revitalisasi SMK.

Didampingi Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani membagikan KIP kepada 331 siswa Sekolah Dasar (SD), 283 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), 257 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), 610 siswa SMK, 12 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB), serta 364 warga belajar Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Program Indonesia Pintar yang dirancang untuk membantu anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin/rentan miskin/prioritas agar tetap mendapatkan layanan pendidikan sampai tamat pendidikan menengah. Puan Maharani menyinggung angkatan kerja Indonesia yang didominasi lulusan SD dan SMP. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan penanganan yang baik agar dapat memastikan penduduk usia produktif memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam persaingan masa depan.

Senada dengan Menko PMK, Mendikbud mengingatkan pentingnya mengelola bonus demografi dengan baik agar dapat meningkatkan produktivitas nasional. Kita harus bisa memastikan anak-anak yang kelak menjadi kelompok usia produktif dapat menjadi tenaga terampil yang benar-benar produktif.

Melalui program revitalisasi SMK, pada tahun 2020 diharapkan terwujud kondisi sebagai berikut:

  • SMK melayani 5,5 juta siswa dengan pendidikan berbasis teknologi informasi melalui 1.650 SMK Rujukan, 850 SMK Reguler, 3.300 SMK Aliansi serta 750 SMK Konsorsium;
  • 80 persen tamatan SMK bekerja dibidangnya, 12 persen berwirausaha, dan 8 persen 1.650 SMK rujukan memiliki lisensi LSP-P1 dan membawahi 800 tempat uji kompetensi (TUK) bagi siswa dan aliansinya;
  • 750 Teaching Factory dan Technopark di SMK berfungsi sebagai Rumah Inovasi;
  • 1.000 Lembaga Kursus dan Pelatihan, serta 350 SMA Luar Biasa terintegrasi dengan SMK.
  • 45.000 Guru Keahlian Ganda dan 2500 Instuktur Kursus;
  • 1,75 juta lulusan SMK, 1 juta lulusan Kursus dan Pelatihan, 1.200 lulusan SMA Luar Biasa memiliki sertifikat keahlian;
  • SMK menjadi pilihan utama bagi lulusan SMP untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan menengah.


Peluncuran Revitalisasi SMK ini menghadirkan 193 industri yang memiliki komitmen dan dedikasi tinggi membangun SMK; 219 SMK yang direvitalisasi di tahun 2017; Guru peserta Program Keahlian Ganda, serta Kementerian/Lembaga terkait. Ke depan, tidak boleh ada SMK dibuka tanpa pasangan atau mitra industrinya.

Oleh: Josua M
(Dikutip dari berbagai sumber)