Lpa: Hukuman Terhadap Siswa Tak Bisa Dianggap sebagai Kekerasan

18 Agustus 2016 Berita Pendidikan


Banyak orangtua keliru dan kurang dapat membedakan antara kekerasan dan sanksi fisik yang diberikan oleh guru dalam hal mendisiplinkan murid. Terkait kasus kekerasan yang ramai dibicarakan dan perbincangan publik saat ini, Ketua Bidang Pemenuhan Hak Anak Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia Reza Indragiri Amriel turut angkat bicara.

Reza mengatakan bahwa sanksi guru terhadap siswa, bahkan yang bersifat fisik sekali pun, tidak bisa serta merta dianggap sebagai kekerasan. Sebenarnya, jika kita menarik dan merujuk pada UU, sanksi memiliki dasar konstitusional. Seperti yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Oleh sebab itu, Reza menilai tidak tepat bila ada yang menyatakan guru dilarang menjatuhkan sanksi fisik kepada siswa meskipun ada kriteria tertentu untuk menentukan jenis sanksi bagi siswa. Tak hanya sampai situ, Undang-Undang Guru dan Dosen serta PP Guru juga memberikan dasar hukum tentang keharusan adanya perlindungan, termasuk di ranah hukum, bagi guru.

Semakin maraknya kasus hukum yang melibatkan guru kerap sekali terjadi di Indonesia. Mulai dari kasus pengeroyokan guru oleh orang tua murid, hingga melaporkannya ke polisi hanya karena tidak terima anaknya dihukum oleh gurunya.

Semoga dengan banyaknya kasus seperti itu, orangtua dan guru bisa setidaknya menyelesaikan masalah secara tenang dan bijak. Tidak dengan main hakim sendiri serta berbuat semaunya. Padahal, orangtua menginginkan anaknya tumbuh dan belajar menjadi seseorang yang hebat kelak. Jika orangtua saja tidak percaya akan guru sebagai orangtua di sekolah? Bagaimana nasib masa depan anak-anak nantinya?

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari berbagai sumber)