Berita Pendidikan
11 Januari 2012

Lihat Autis atau Tidak, Dilihat dari Kemampuan Bayi Gunakan Telunjuk

Lina Monica dan Pengalamannya Mendirikan Sekolah Berkebutuhan Khusus

Sudah 10 tahun Lina Monica menggeluti bidang pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Sebagai pendiri Prokids, ia membantu orang tua dan mendorong perkembangan anak. Bagaimana kisahnya? YERI VLORIDA

Chelsea yang kini usianya 3,5 tahun menderita autis ringan. Jika namanya dipanggil, maka Chelsea tidak pernah merespon. Begitu juga ketika diajak berbicara ia tidak mau berinteraksi dengan orang lain. Namun, sejak mengikuti terapi selama 2 bulan, Chelsea mengalami perkembangan yang pesat. Chelsea bagi Monica sapaan Lina Monica merupakan salah satu contoh anak autis yang kini sedang mengikuti program terapi di Prokids. Ada banyak jenis kebutuhan khusus yang dilakukan Lina bersama tim yang dibinanya.

Sebagai principal Prokids ada beragam temuan dan pengalaman yang ia miliki untuk membantu perkembangan anak. Anak anak ditangani oleh tim okupasi terapis, kata perempuan kelahiran Solo, 14 April 1967 itu. Kemajuan yang dapat dilihat dari perkembagan anak setelah menjalani terapi akan berbeda. Setelah menjalani terapi anak jika dipanggil mulai menengok mengarah ke asal datanganya suara. Lalu mulai mengerti perintah kecil yang dilakukan orang tua saat mengasuh anak. Tidak hanya itu Monica juga memberikan pengarahan kepada orang tua untuk mengetahui perkembangan anak.

Misalnya, ada bayi normal di usia 7-8 bulan sudah bisa menggunakan telunjuk. Sedangkan bayi autis sama sekali tidak bisa karena memang saraf sensorik mereka tidak berfungsi baik. Cara maka memasuki usia 1,5 tahun orangtua sudah harus melakukan intervensi diri terhadap anak mereka yang mengidap autis. Semakin dini intervensi yang dilakukan akan semakin bagi bagi perkembangan si anak. Pentingnya intervensi orangtua dapat membantu mengarahkan dan melakukan program untuk perkembangan sensorik anak.

Intervensi maksudnya, orangtua memberi contoh pada si anak dengan kata-kata dan melakukannya sebab anak autis tidak bisa melakukan sendiri, ucap lulusan Sarjana Psikologi Pendidikan Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Kristen Indonesia, Jakarta 1992 itu. Selama mengikuti terapi dijelaskannya setiap anak akan didampingi khusus dan psikolog. Di Prokids, anak akan menerima beberapa terapi. Yakni terapi perilaku, wicara, okupasi, sensori integrasi, fisioterapi dan education terapi. Untuk menjalani terapi anak-anak mengikuti bimbingan dari psikolog dan terapis yang memandu kegiatan.

Tak kurang satu jam, satu anak mengikuti terapi sambil diajak permainan. Contohnya di ruang yang terletak di lantai dua gedung Prokids itu. Ada beragam mainan yang digunakan untuk anak-anak ketika mengikuti terapi. Misalnya bola plastik yang diletakkan dalam bak. Dijelaskannya anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang terdiagnosis. Contohnya autisme, asperger, Pervasive Development Disorder not Othwise Specified (PDD NOS), Atention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Down Syndrome, Cerebal Palsy, Mental Retarded, Speech Delay dan Slow Leaner.

Salah satu yang diterapkan Prokids misalnya terapi wicara yang menghasilkan keselarasan fungsi pernafasan, fonasi, gerak alat wicara dan resonansi. Tujuannya untuk menghasilkan media komunikasi oral menggunakan simbol bahasa. Lingkup kerja terapis wicara meliputi kegiatan pengumpulan data, perencanaan terapi, tindakan terapi, evaluasi, advis serta rujukan para ahli. Setiap perkembangan anak dilaporkan kepada orang tua.

Sehingga orang tua juga dapat focus membimbing anak di rumah. Setelah menjalani terapi dan anak menunjukan perkembangan Monica menyarankan agar orang tua memberikan anak kebahagian. Minimal bahagia untuk dirinya sendiri agar bisa hidup berinteraksi dengan lingkungan. Sebetulnya, sejak usia enam bulan anak berkebutuhan khusus sudah bisa di ketahui gejalanya, tuturnya.

Sumber: indopos.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris