Lebih Enak Siswa Tidak Lulus UN Utama?

2 Juli 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA, Sejumlah orang tua siswa di Jakarta menuding Dinas Pendidikan DKI Jakarta bersikap tidak adil jika memberlakukan sama nilai UN (NUN) SMP hasil UN utama dengan UN ulangan. Kedua NUN tersebut akan sama-sama menjadi syarat seleksi siswa baru.
Sebelumnya, seperti dilansir di Warta Kota,Rabu (29/6/2010), sejumlah orang tua murid menuntut adanya perbedaan perlakuan terhadap kedua NUN tersebut. NUN akan dijadikan acuan seleksi masuk SMA/sederajat negeri di wilayah DKI Jakarta dalam pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) 2010 yang berlangsung 1-3 Juli (PPDB I) dan 7-8 Juli (PPDB II).

"Enggak fair kalau nilainya disamakan. Soalnya, siswa yang tidak lulus UN utama dan kemudian mengulang, nilainya besar-besar. Bahkan, banyak juga yang dapat nilai 10. Masak nilai yang mengulang jadi lebih besar dari nilai siswa yang lulus UN utama," kata Ny Rani, warga Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Rani mengaku tak bisa menerima jika anaknya gagal masuk ke SMA hanya karena kalah bersaing dengan siswa yang NUN-nya lebih tinggi karena mengikuti UN ulangan.

"Enakan siswa yang tidak lulus UN utama, dong," katanya.

Menanggapi hal itu, pengamat pendidikan dari Education Forum, Suparman, kepada Kompas.comdi Jakarta, Rabu (30/6/2010), mengatakan, untuk menghindari perasaan ketidakadilan itu seharusnya Disdik DKI Jakarta menggunakan beberapa parameter penilaian lain untuk diikutsertakan sebagai variabel seleksi. Nilai rapor, nilai Ujian akhir Sekolah (UAS) atau tes lokal, kata dia, seharusnya diperhitungkan.

"Sehingga terasa adil, karena seleksi terhadap anak, baik yang di UN utama atau UN ulang, tetap diperhitungkan secara menyeluruh. Sebetulnya, apapun hasil UN itu sudah tidak bisa diapa-apakan lagi, kalau mau dipersoalkan sistem seleksinya," tambah Suparman.

Sumber: Kompas.com