LBH Anak Rilis 8 Game Online yang Dapat Membahayakan Perkembangan Anak

19 Januari 2015 Berita Pendidikan


Baru-baru ini, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak, merilis 8 Game Online yang dapat berpengaruh buruk bagi perkembangan anak. Dikarenakan dapat mempengaruhi psikologis anak yang kerap menampilkan kekerasan.

"Ibarat candu, perlahan-lahan efek game tersebut merusak sisi psikologis dan kepribadian anak. Kita selaku orangtua cenderung abai menyangkut upaya preventif terhadap gejala ini," ujar Manager Program pada LBH Anak Aceh, Rudy Bastian, di Banda Aceh.

"Ada delapan game yang saat ini berbahaya bagi anak, yakni Point Blank, Counter Strike, World of Warcraft, Call of Duty, RF Online, AION, Gunbound, dan Lost Saga," tegas Rudy.

Menurut Rudi, Game Online yang sedang ramai belakangan ini dan diwarnai dengan tema perang-perangan, perkelahian, pembantaian etnis, perang antarsuku, dan bahkan pembunuhan sadis terhadap siapapun tersebut dapat mudah ditiru oleh anak secara spontan. Disisi lain, menurutnya anak selalu meniru perilaku apa yang mereka lihat.

"Setiap anak yang bermain game ini mendapatkan suasana menegangkan dan menantang tak terkecuali jika game ini dimainkan orang dewasa," katanya.

Dia mengkahwatirkan, game tersebut mempengaruhi perilaku anak di waktu yang akan datang. "Perlahan-lahan efek game tersebut merusak sisi psikis dan kepribadian anak," kata Rudy. Parahnya, game seoalah menjadi candu bagi anak. Anak yang telah terbiasa memainkan akan susah untuk meninggalkannya.

Beberapa dampak yang ditimbulkan dari game online, menurut dia, di antaranya masalah sosialisasi, komunikasi, dan empati si anak dengan orang lain sekitarnya. Kondisi ini memicu agresivitas anak dan terkikisnya hubungan sosial anak terhadap kondisi sekitar.

"Hasil penelaahan kami, game online saat ini di Aceh lebih digandrungi anak usia 8-14 tahun. Warung internet tempat penyedia game online yang selalu ramai dikunjungi anak, atau bisa juga dikatakan sebagai rumah kedua bagi mereka dalam bermain," paparnya.

Disisi lain, orang tua anak, menurut Rudy, banyak yang tidak memahami efek buruk dari game tersebut. Lebih dari itu, tak sedikit orang tua yang membiarkan anaknya memainkan game berbahaya ini.

"Kita selaku orang tua cenderung abai dan gampang sekali mengizinkan anak bermain game online dengan alasan supaya anaknya tidak jenuh dengan aktifitas belajar yang sudah dijalani selama ini," ujarnya.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)