Kurikulum 2013 Dihentikan, Inilah Berbagai Tanggapan Guru

9 Desember 2014 Berita Pendidikan


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah resmi menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013, dan mengembalikan ke Kurikulum KTSP 2006 untuk semester genap 2014-2015, diseluruh Indonesia.

Namun, hal ini tidak berlaku bagi sekolah yang telah menjalankan pelaksanaan Kurikulum 2013 selama 3 semester. Anis mengatakan kurikulum akan diperbaiki dan dikembangkan melalui sekolah-sekolah yang sudah tiga semester menerapkan K13 dan menjadikannya sekolah percontohan dalam implementasi K13 itu sendiri.

Menanggapi hal tersebut, sebagian guru punya berbagai pendapatnya masing-masing dalam menyikapi pemberhentian penerapan K13.

Sebagian dari guru percaya, pemerintah nantinya mampu memutuskan kurikulum terbaik bagi para siswa. Kepala Sekolah SMPN 41 Jakarta, Drs. Afrisyaf Amir, M.Pd, mengungkapkan keyakinannya kalaupun pemerintah memutuskan kembali menerapkan Kurikulum 2006, itu merupakan keputusan yang telah dipikirkan baik-baik.

"Jadi, sifatnya, kami menunggu instruksi dari pemerintah tentu dalam hal ini dinas pendidikan provinsi DKI Jakarta. Apapun kebijakan yang diambil, kita mengikuti," papar Afrisyaf

Afrisyah mengatakan, jika pemerintah memutuskan kembali ke Kurikulum 2006, maka sudah menjadi tugas para guru untuk menyampaikan pada siswa didik.

"Kalau nanti Kurikulum 2013 dihentikan, lalu kembali ke Kurikulum 2006 atau KTSP, jadi tugas kita lagi untuk menyampaikan ke anak-anak, agar tidak salah dalam pemahaman," jelasnya.

Pendapat tersebut senada dengan Kepala Sekolah SMP Suluh Jakarta, Kusnadi, S.Pd. Walau memang secara pribadi Kusnadi mengaku kecewa terhadap keputusan pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan Kurikulum 2013, namun pihaknya akan mengikuti apapun ketentuan pemerintah.

"Sebenarnya di sekolah, apapun kurikulum yang diberikan, dipakai saja. Tapi kalau disuruh memilih, saya lebih memilih kurikulum 2013," kata Kusnadi.

Menurut Kusnadi, dibandingkan kurikulum sebelumnya, K13 bisa mengakomodir kecerdasan anak yang sifatnya berbeda-beda, tak melulu soal pengetahuan akademis.

"Kalau saya setuju dengan kurikulum 2013. Karena anak-anak punya kecerdasan sendiri-sendiri. Ada anak yang kognisinya bagus, ada juga yang keterampilannya yang bagus. Itu kan kita lihat," paparnya.

Beliau mengakui, kalangan guru di lingkungannya masih memilki pendapat berbeda-beda soal pelaksanaan K13. Apapun keputusan yang nanti akan dibuat, semoga kedepannya krisis pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari berbagai sumber)