Krisis Guru, Jateng Butuh Tenaga Pengajar Sekolah Dasar

16 September 2015 Berita Pendidikan


Guru yang menjadi komponen penting dalam pendidikan di Indonesia justru tidak sejalan dengan apa yang bangsa cita-citakan. Kekurangan guru masih saja menjadi kendala dalam proses belajar mengajar. Terutama kekurangan guru yang banyak terjadi di daerah.

Dr Muhdi, pakar pendidikan yang juga Rektor Universitas PGRI Semarang mengatakan masalah kekurangan guru sekolah dasar (SD) di berbagai daerah harus segera diatasi.

"Sampai sekarang ini, saya melihat belum adanya keseriusan untuk mengatasi masalah kekurangan guru SD. Pemerintah harus menghitung secara fair kebutuhan guru SD," ujar Muhdi.

Menurut dia, pemerintah selama ini masih memasukkan guru wiyata bhakti atau guru tidak tetap (GTT) sebagai dasar penghitungan kebutuhan guru sehingga jumlah tenaga guru pasti mencukupi.

Ia mengatakan penghitungan kebutuhan guru semestinya hanya dari jumlah guru tetap di sekolah swasta atau guru pegawai negeri sipil (PNS) sehingga data yang dihasilkan benar-benar valid.

Sekum PGRI Jateng tersebut berpendapat bahwa guru wiyata bhakti atau GTT harusnya tidak dihitung melihat bahwa kewajiban yang diberikan tersebut sama dengan guru tetap, sementara hak-haknya tidak diberikan secara sama.

Faktanya sekarang, guru SD di Kota Semarang saat ini tidak kurang dari 600-800 guru, apalagi daerah-daerah lain yang jumlah SD-nya yang sangat banyak.

"Idealnya, guru kelas yang bertanggung jawab setiap kelas di SD adalah guru tetap atau guru PNS. Namun, banyak sekolah menempatkan GTT karena memang mereka kekurangan tenaga pendidik," katanya.

Dirinya berharap bahwa ada upaya serius yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kekurangan guru, antara lain melalui rekrutmen PNS guru dengan memprioritaskan guru wiyata bhakti atau GTT yang sudah lama mengabdi.

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari berbagai sumber)