Kiat Menangkal Cengkeraman Jaringan Nii

28 April 2011 Berita Pendidikan


YOGYAKARTA - Menyikapi maraknya kasus cuci otak jaringan Negara Islam Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga membentuk kelompok kerja untuk meredesain kurikulum perkuliahan. Prinsipnya, kurikulum perkuliahan harus aktual dengan konteks keindonesiaan.

"Fenomena yang berkembang saat ini (kasus cuci otak jaringan NII) menunjukkan mulai lunturnya semangat nasionalisme. Sebab, keindonesiaan yang diajarkan di kampus-kampus tidak lagi aktual. Seluruh perguruan tinggi harus membuat perubahan," kata Rektor UIN Sunan Kalijaga Musa Asy ari, Rabu (27/4/2011) di Yogyakarta.

Menurut Musa, ilmu-ilmu yang diajarkan di universitas seharusnya bersinggungan dengan realitas Indonesia. Dengan demikian, para mahasiswa diharapkan tidak lari mencari ideologi lain.

Terjeratnya sejumlah mahasiswa terhadap jaringan-jaringan radikal tertentu tak lepas dari munculnya sikap frustrasi luar biasa dari kelompok tertentu terhadap realitas ekonomi, politik, sosial, dan budaya di Indonesia. Sikap frustrasi tersebut kemudian bersinggungan dengan para mahasiswa yang juga frustrasi saat menghadapi masa depan mereka yang tak jelas.

"Kegiatan-kegiatan yang ada di kampus ternyata belum mampu merespons sikap frustrasi sebagian mahasiswa. Karena itu, kami akan memperkuat entrepreneurship di kalangan mahasiswa. Unit-unit kegiatan mahasiswa akan dibuka seluas-luasnya agar mahasiswa memiliki bekal untuk masa depan mereka," ujarnya.

Pusat krisis

Selain meredesain kurikulum, UIN Sunan Kalijaga membentuk Pusat Krisis. Pendirian Pusat Krisis bertujuan untuk melakukan rehabilitasi serta perawatan terhadap mahasiswa-mahasiswa yang mulai terpengaruh jaringan-jaringan radikal seperti NII.

"Siang ini kami menggelar rapat dan berkoordinasi untuk membentuk pusat krisis dengan pola pendekatan yang komprehensif," kata Musa.

Sumber: kompas.com