Kesejahteraan Guru PAUD Kian Memprihatinkan

16 Maret 2015 Berita Pendidikan


Kesejahteraan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memprihatinkan. Hanya sedikit dari mereka yang mendapat gaji yang layak, yakni berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan. Sedangkan ada yang hanya menerima honor Rp 50 ribu per bulan.

"Di Jateng, ada yang hanya menerima honor Rp 50.000/- bulan. Bahkan, kader Pos PAUD ada yang sama sekali tidak menerima honor. APBD Provinsi belum menyentuh semua pendidik PAUD nonformal," jar Sekretaris Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Jateng Ellysa Aditya.

Sebagian besar guru pendidikan anak usia dini (PAUD) nonformal mendapat gaji Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per bulannya. Angka tersebut jauh dari upah minimum provinsi (UMP) sejumlah daerah yang menyentuh angka Rp 2 juta. Selain itu, kompetensi guru PAUD, terutama nonformal juga memprihatinkan.

Pasalnya, sampai saat ini, hanya 23,6 persen guru PAUD yang mempunyai latar belakang pendidikan sarjana. Sebagian besar lulusan SMA, bahkan 4 persen lulusan SMP.

"Ini memang dilematis. Meski taman kanak-kanak (TK) tergolong dalam kriteria PAUD, tetapi dari sisi pembiayaannya sangat berbeda. Pada TK komersial, orangtua dengan rela hati membayar mahal. Malah berebut masuk," ujar Ketua Umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Netti Herawati.

Di masa lalu, lanjut Netti, pemerintah memberi apresiasi pada guru PAUD berupa insentif sebesar Rp 1,5 juta per orang yang dialokasikan pada dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, belakangan jumlah itu diturunkan menjadi Rp 750 ribu per bulan.

Padahal, PAUD merupakan gerbang dan pondasi penting dalam Gerakan Revolusi Mental yang digagas Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Pasalnya, usia dini merupakan masa keemasan mengingat pada saat empat tahun kapasitas kecerdasan anak telah mencapai 50 persen dari kecerdasan orang dewasa dan terus berkembang hingga mencapai 80 persen pada usia delapan tahun.

Untuk itu, Netti meminta pemerintah memberi perhatian serius kepada guru PAUD untuk masa depan generasi muda yang lebih baik. Kompetensi dan kesejahteraan guru PAUD harus diperhatikan.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)