Kenaikan TDL Berimbas pada Sektor Pendidikan

7 Juli 2010 Berita Pendidikan


CIAMIS - Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang mulai berlaku bulan Juli 2010 tidak hanya menambah beban dunia usaha maupun masyarakat, tetapi juga berimbas pada dunia pendidikan. Setidaknya kenaikan tersebut bakal dirasakan oleh sekolah kejuruan atau SMK yang banyak mempergunakan listrik.

Beban tersebut bakal semakin berat, karena sekolah tidak bisa seenaknya menaikkan sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP). Salah satu pertimbangannya karena sebagian siswa SMK berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Di lain pihak, sekolah sangat membutuhan tambahan anggaran untuk membayar beban listrik.

"Kami berharap kenaikan tersebut tidak diberlakukan di sekolah. Saat ini saja beban kami sudah berat, apalagi jika ada kenaikan TDL. Kami segera melakukan pertemuan untuk membahas persoalan tersebut," tutur Kepala Sub Bag Tata Usaha (Kasubag TU) SMKN 2 Ciamis, Kuriawan, Selasa (6/7).

Dia mengatakan untuk mengatasi persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan dengan cara menaikkan SPP. Alasannya karena banyak hal yang harus menjadi bahan pertimbangan, seperti latar belakang perekonomian orangtua siswa.

Saat ini saja, ungkap dia beberapa siswa terpaksa tidur di sekolah. Siswa terpaksa tidur di sekolah, untuk menghemat biaya transportasi. Sebagian siswa juga mengajukan keringanan dengan fasilitas keterangan tidak mampu (KTM). "Tidak sekadar menaikkan SPP, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Perlu diingat bahwa siswa yang sekolah di SMK biasanya berasal dari kelarga yang perekonomiannya menengah ke bawah," ungkapnya.

Saat ini, lanjut dia, siswa membayar SPP sebesar Rp 75.000 per bulan. Apabila diperhitungan untuk biaya operasional, tambah Kurniawan, jumlah tersebut masih lebih kecil.

Lebih lanjut dia mengatakan SMKN 2 Ciamis yang terletak di Kelurahan Maleber, Kecamatan/Kabupaten Ciamis harus mengeluarkan uang langganan listrik rata-rata per bulan sebesar Rp 4,3 juta. Besarnya biaya langanan disebabkan karena sebagian besar mesin praktik siswa sumber dayanya dari listrik.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Ciamis Asep Sudarman mengatakan bahwa seluruh sekolah mendapatkan bantuan operasional. bantuan yang sumber anggarannya dari APBD Ciamis berkisar antara Rp 2 juta - Rp 6 juta per tahun.

Dia mengakui bahwa adanya kenaikan TDL sangat dirasakan oleh SMK. Terutama SMK yang banyak mempergunakan peralatan atau mesin yang dijalankan dengan listrik. Sekolah tersebut sangat tergantung pada pasokan listrik dari PLN. "Sebenarnya semuanya sekolah juga merasakan tambahan beban. Hanya saja SMK yang banyak memakai listrik, tentu akan terasa lebih berat lagi," tuturnya. (A-101/das)***

Sumber: pikiran-rakyat.com