Kemendikbud: Menggratiskan SMA Terbuka

18 Maret 2014 Berita Pendidikan


Istilah pembelajaran jarak jauh mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, jika di Indonesia sistem pembelajaran tersebut baru diterapkan pada jenjang pendidikan tinggi melalui Universitas Terbuka, saat ini ada terobosan baru untuk tingkat menengah, yakni SMA Terbuka.

Dalam SMA Terbuka, siswa tidak akan dibebani oleh biaya apa pun. Sebab, para pelajar akan menerima beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). "Kami berikan beasiswa Rp1,24 juta per tahun bagi para siswa SMA Terbuka. Sementara untuk memasang kesiapan IT di tiap sekolah induk Rp200 juta. Minimal kami anggarkan Rp650 juta-Rp1 miliar per sekolah induk untuk SMA Terbuka ini," Kasubid Program dan Evaluasi Dirjen Dikmen Lilik Sulistyowati dalam Dialog Interaktif Sekolah Menengah Jarak Jauh dan Tunjangan Guru di fX, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (17/3/2014).

Meski merupakan pembelajaran online, Lilik menjamin program perdana yang menargetkan 1.000 siswa itu tetap akan menggunakan kurikulum 2013. Hanya saja, lanjutnya, dikemas dalam bentuk online.

"Suplemen bahan ajar jarak jauh. Bahan ajar tetap dari SMA, bahan ajar yang sudah ada. Tidak ada perubahan dengan kurikulum 2013. Hanya tambahan suplemen jarak jauh. Dibuat dalam e-book. Mereka akan dapat tablet dari sekolah untuk mempermudah proses belajar mengajar, tapi hanya untuk sekolah induk yang berbasis dominan online," jelasnya.

Mendekati waktu penerimaan siswa baru, Lilik yakin semua persiapan untuk penerapan SMA Terbuka di lima sekolah induk bisa selesai tepat waktu. Baik kesiapan infrastruktur IT, bahan ajar, maupun tenaga pendidik. "Saat ini kami sedang melatih tutorial, memasang jaringan di sekolah induk, dan sinergi dengan UT. April akan simulasi sesuai jadwal bersama Pustekkom dan SEAMOLEC, serta didampingi oleh Rektor UT. Sehingga anak bisa belajar kapan saja dan di mana saja," ungkap Lilik.

Sementara itu, Rektor UT Tian Belawati menampik adanya anggapan jika pelajar SMA tidak mampu bertanggung jawab dalam sistem pembelajaran yang mandiri. Dia yakin, para pelajar SMA siap dengan sistem pembelajaran berbasis IT itu.

"Pada dasarnya, pelajar SMA mampu menjadi advance organizer dalam pembelajaran mandiri. Mungkin ada kendala dalam pelaksanaannya tapi berkat pendampingan yang terus diberikan kepada siswa, masalah itu bisa diatasi," urai Tian.

Oleh: Indra K
(Dikutip dari Okezone.com)