Kemampuan Berpidato Harus Dikuasai Pelajar

18 November 2010 Berita Pendidikan


JAKARTA - Tanpa disadari kemampuan seni berorasi atau pidato, terutama dalam bahasa Inggris sudah dijalankan para siswa ketika menjalani proses pembelajaran di sekolah. Hanya saja, kemampuan itu perlu diasah melalui medium kompetisi. Dengan demikian diharapkan para pelajar mampu menjadi calon orator-orator yang ulung.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto mengatakan pihaknya berupaya mendorong para belajar meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris melalui berbagai kegiatan seperti lomba atau kompetisi berpidato. Dia berpandangan membiasakan pelajar menggunakan bahasa Inggris dalam seni berorasi atau keperluan lain dapat bermanfaat bagi para siswa.

"Keterampilan berpidato bahasa Inggris juga sangat penting dan memiliki manfaat jangka panjang," kata dia saat membuka acara Erlangga English Speech Contest 2010 yang berlangsung di Auditorium Utama, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (16/17).Karena itu, dia menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Erlangga English Speech Contest 2010.

Dia mengharapkan melalui ajang berpidato seperti Erlangga English Speech Contest 2010, para pelajar mampu menunjukan kebolehannya menyampaikan pidato berbahasa Inggris. "Dengan berbekal bahasa Inggris yang memadai pelajar sekolah menengah mendapatkan kesempatan yang luas yang lebih luas dalam pengguasaan materi pembelajaran," kata dia.

Sementara itu, Ketua MGMP Bahasa Inggris, DKI Jakarta, Kadim menilai penguasaan kemampuan berpidato, terutama bahasa Inggris menjadi awal yang baik sebelum nantinya para pelajar bersaing dalam kancah global. "Mereka umumnya sudah mempunyai dasar yang kuat. Tinggal menerapkan dalam kompetisi yang memungkinkan mereka mengukur kemampuannya," kata dia.

Dia menyadari, penggunaan kemampuan berpidato, terutama dalam bahasa Inggris belumlah optimal. Dia pun mengharapkan pelajar untuk dapat memanfaatkan ajang-ajang kompetisi semisal Erlangga English Contest 2010 guna mengasah kemampuan pelajar dalam berpidato bahasa Inggris."Kelak mereka akan mendapatkan manfaatnya," kata dia.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah SMAN 78 Jakarta, Asril Azim mengatakan secara umum, kemampuan berpidato, terutama pidato berbahasa Inggris merupakan keahlian yang sulit untuk dipelajari. Pasalnya, kurikulum pendidikan nasional tidak menunjang para pelajar untuk mengembangkan kemampuan itu. "Bayangkan, materi pidato hanyalah terdapat di pelajaran Bahasa Indonesia. Itupun tidaklah menjadi materi tersendiri," kata dia.

Selain itu, para siswa biasanya cenderung malu untuk mengutarakan pendapatnya. Belum lagi, para pelejar juga malu dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. "Persoalan makin rumit ketika dominasi guru terhadap pelajar dalam kelas kian menyudutkan keinginan pelajar untuk mengutarakan pendapatnya atau bahkan berpidato," ujarnya.

Padahal menurut dia, kemampuan macam itu memungkinkan pelajar mengutarakan pendapat dan mempengaruhi orang lain untuk mempertunjukan gagasanya. "Dua hal ini yang akan dihadapi pelajar ketika kembali ke masyarakat," paparnya.

Dia menilai ajang lomba berpidato sejatinya dapat memberikan sedikit ruang bagi siswa untuk mengeluarkan kemampuannya yang selama ini terpendam dalam kelas."Menang kalah biasa, paling tidak mereka sudah menujukan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain," kata dia.

Kontes Berpidato
Semenjak pendaftaran ajang Erlangga English Contest 2010 ditutup 30 Oktober lalu, telah terjaring 317 peserta yang berasal dari sekolah menengah dan sederajat se-Jabodetabek. Dari 317 perserta segera tersaring 30 peserta yang mengikuti fase Grand Final yang berlangsung Senin, 16 November 2010. Kordinator Acara Erlangga English Speech COntest 2010, MOchammad Ridwan mengatakan secara kuantitas dan kualitas penyelenggaraan Erlangga Specch COntest tahun 2010 mengalami peningkatan. Sebelumnya, Erlangga hanya mampu menjaring kurang dari 100 peserta. "Kini peserta mencapai 317, secara kualitas tingkat persaingan semakin ketat," kata dia.

Proses Grand Final berjalan sangat menarik dan ketat. Masing-masing peserta tak mau kalah menunjukan kemampuannya sebagai seorang finalis. Kebanyakan dari mereka membawakan tema How does social networking change your life. Naomi Padan Junita, pelajar SMAN 8 Jakarta sengaja memilih tema tersebut sebagai materi pidatonya. Dia mengaku ide membawakan tema tersebut berawal dari kegundahnya terhadap tren jejaring sosial di kalangan pelajar.

"Saya boleh dibilang penggila jejaring sosial. Masalah muncul ketika orang tua mempertanyakan kegemaran saya itu. Saya pun juga sulit untuk mengajari orang tua tentang jejaring sosial. Tapi saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa jejaring sosial tidaklah selamanya negatif," paparnya. Berkat pemaparannya itu, Naomi diganjar juara Harapan I. "Ya, maunya sih, juara pertama. Tidak apa-apa, intinya kan pengalaman,"

Sementara itu, Erick Tjitra, pelajar SMAK 5 Penabur, Jakarta mengatakan dirinya lebih memilih tema "Should sex education be made a secondary school subject" sebagai materi pidato dikarenakan dirinya merasa penting untuk menyuarakan perlunya pendidikan seks dikalangan pelajar. Menurut Erick, pendidikan itu sangat berguna untuk membentengi pelajar dari prilaku seks yang menyimpang dari ajaran agama. "Saya rasa pendidikan seks sangat penting,". Pemaparan Erick rupanya memincut para juri guna mendaulatnya sebagai pemenang pertama Erlangga English Speech Contest 2010.

Ketua MGMP Bahasa Inggris, Kadim, menilai pada umumnya peserta memiliki kemampuan yang sangat baik dari berbagai sisi seperti penyajian materi, tata bahasa dan gaya bahasa tubuh. "Saya sempat sulit untuk menentukan mana yang terbaik. karena mereka begitu pandai," kata dia.

Sumber: republika.co.id