Kelas Penuh Siswa? Enggak Zaman, Ah!

11 Mei 2010 Berita Pendidikan


Dukungan yang tepat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa atau karyawan di sebuah lembaga kursus tidak bisa dilakukan dengan jadwal kursus yang kaku, ruang kelas yang ramai, buku-buku teks yang sulit dipelajari, dan pendidik yang tidak peduli pada kemajuan peserta didiknya sendiri.

Jadwal belajar yang kaku, misalnya, kerap membuat peserta didik kehilangan kesempatan belajar lantaran tersita oleh waktu dan kesibukannya yang lain, baik itu untuk keperluan sekolah atau kerja. Meskipun kehilangan itu terhitung hanya satu kali pertemuan, hak belajar si peserta didik tetap terhitung hilang. Padahal, dia sudah keluar biaya mahal.

"Padahal, jika diatur dengan jadwal yang fleksibel, selain hak belajarnya tetap ada, peserta didik pun tidak bisa membolos lagi dengan alasan apa pun demi kepentingannya sendiri," ujar Head of Marketing Wall Street Institute Indonesia (WSI) Grace Chandra di sela-sela peresmian cabang keempat WSI Central Park, Senin (10/5/2010).

Dengan menggunakan teknologi interaktif terkini, sambung Grace, jadwal belajar siswa bisa diatur dengan fleksibel sesuai waktu dan kesibukannya sendiri. Selain itu, sudah bukan saatnya lagi peserta didik belajar di kelas yang diisi oleh puluhan orang.

"Siswa tentu bisa mendapatkan perhatian sepenuhnya dari pengajar di kelas yang lebih kecil dan sedikit siswanya. Inilah yang kami terapkan selama ini dan berhasil. Siswa di sini tidak lebih hanya 4 orang dan 1 orang guru di kelas yang terbesar," ucap Grace.

Menurutnya, minat belajar siswa harus terus dijaga. Selain dengan fasilitas, suasana belajar juga perlu diciptakan untuk mendukung materi yang sudah diberikan, bahkan harus disinergikan. Salah satu yang dilakukan WSI, misalnya, menyiapkan sesi-sesi tambahan yang disebut dengan complimentary class dan social club.

"Jika complementary class dirancang untuk mendiskusikan suatu topik dalam kelompok maksimal hanya 8 orang di dalam kelas, sosial club justru dilakukan di luar kelas dan bahkan di luar lingkungan WSI sendiri dengan jumlah siswa yang bisa mencapai puluhan," ujarnya.

Selain bertujuan meningkatkan kemampuan "speak up" para siswa, lanjut Grace, kegiatan yang satu ini juga ditujukan untuk menambah lingkungan pergaulan peserta didik di lingkungan WSI.

"Intinya, mereka bisa tetap santai dan rileks berada di lingkungan belajarnya sendiri tapi bisa tetap menambah pengetahuan dan keberanian menggunakan skill bahasanya," ujarnya.

Selain oleh pendidik, tema perbincangan juga bisa ditentukan para peserta didik untuk dibincangkan di dalam social club tersebut. Syaratnya, tema adalah sesuatu yang sedang up to date dan akrab di telinga peserta didik. Grace menuturkan, tema-tema seperti salsa, wine testing, atau cooking class pernah menjadi bahasan menarik di ajang bersosialisai sambil belajar dengan santai ini.

"Intinya, belajar akan lebih nyaman jika tanpa paksaan dan tekanan," tambahnya.

sumber: kompas.com