Kekerasan Sekolah Diadukan ke Komnas Pa

13 Desember 2011 Berita Pendidikan


Pasarrebo - Sebanyak 105 siswa SMKN 29 Jakarta Selatan mengalami kekerasan fisik di sekolah dan mengadukannya ke Komnas Perlindungan Anak. Mereka ditampar, dipukul, dan disabet ikat pinggang di punggung oleh sejumlah guru dan kepala sekolah pada Kamis-Jumat (8-9/12) lalu.

Rambut para siswa juga dicukur asal-asalan dengan mesin pencukur rambut oleh sang kepala sekolah. Siksaan itu sebagai hukuman karena para siswa kedapatan akan tawuran dengan siswa sekolah lain.

Karena kekerasan para guru itu, sejumlah siswa mengaku trauma. Apalagi mereka juga diancam akan dikeluarkan dari sekolah yang dulu dikenal dengan sebutan STM Penerbangan ini. Seorang siswa yang mengalami siksaan adalah siswa perempuan berinisial VR (14).

Ia mengalami perlakuan asusila dari kepala sekolah yang mencacinya dengan perkataan kotor dan tidak pantas diungkapkan di depan umum. Tiga dari 105 siswa yang mengalamai penyiksaan itu, dengan ditemani salah satu orangtua murid siswa dan dua orang aktivis dari Kontras, mendatangi Kantor Komnas PA, Senin (12/12) sore.

Ketiganya adalah DP (16)- siswa Kelas II, RRH (15)-siswa kelas I, dan RW (15)-siswa kelas I. DP menuturkan peristiwa berawal pada Kamis (8/12) lalu saat mereka pulang sekolah usai ujian ulangan semester I, sekitar pukul 10.30.

Saat itu ia dan ratusan siswa SMKN 29 lainnya berkumpul di sekitar Terminal Blok M. Beberapa siswa, menurut DP, berniat pulang ke rumahnya masing-masing. Namun beberapa siswa lainnya, diakui DP, bersiap akan tawuran dengan siswa dari SMK Purnama yang berada tak jauh dari sekolah mereka di Kebayoran Baru. Pasalnya Selasa (6/12) sebelumnya, seorang siswa SMKN 29 dibacok oleh siswa SMK Purnama.

"Dia sekarang di rumah sakit," kata DP. Para siswa akhirnya diamankan polisi dan dimasukkan ke dalam bus untuk dipulangkan ke rumah masing-masing.

Namun saat itu justru datang dua orang guru mereka ke terminal Blok M yang meminta agar mereka dibawa ke kantor polisi.

"Polisi mau memulangkan kami, tapi tiba-tiba guru dari sekolah kami datang dan menyuruh kami dibawa ke Polres," ujar DP.

Guru tersebut, menurut DP adalah Ali, guru agama islam, dan Amiran, guru aeromodeling yang juga wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan dua guru lainnya. Sesampainya di Polres Jakarta Selatan, para siswa dipisahkan per kelas.

"HS, siswa kelas tiga, digampar oleh Bu Solaini guru Kewarganegaraan," ujar DP. Ia ditampar beberapa kali. Tak lama guru mereka, Amiran datang dan mengabsen ke-105 anak tersebut. Lalu Ali, guru lainnya kemudian memukul muka para siswa dengan tangannya.

"Padahal polisi gak mukul. Yang mukul justru guru kami," katanya. DP mengakui saat itu polisi juga mengamankan senjata tajam yang mereka bawa. "Setelah dibriefing, kami dipulangkan dengan dijemput orangtua," kata DP.

Keesokan harinya, Jumat (9/12) pukul 07.30, saat tengah ujian, ke-105 murid yang tertangkap akan tawuran, kembali dipanggil oleh guru. Mereka dikumpulkan di ruang multimedia. Dari 105 siswa itu, seorang diantaranya adalah perempuan yakni VR.

"Di dalam ruangan itu kami disuruh berbaris dan telanjang dada, keculai VR," ujar DP.

Menurut VR, ponsel semua anak kemudian disita. Rambut mereka pun dicukur oleh Kepala Sekolah Dedi Dwitagama dengan mesin cukur. Kepala sekolah lalu menyuruh mereka menampar secara beruntun.

"Kepala sekolah menampar teman saya, lalu teman saya menampar teman di sebelahnyan begitu seterusnya," kata DP.

Setelah semua siswa mendapat tamparan, menurut DP, rekannya MO, siswa kelas satu, mendapat perlakuan lebih parah. Punggungnya dipukuli dengan gesper oleh kepala sekolah hingga berdarah. Setelah selesai, kepala sekolah mengancam mereka akan dikeluarkan jika melaporkan kejadian itu.

"Setelah kejadian, kepala sekolah sadar kalau di ruang multimedia ada CCTV. Pak Kepala sekolah lalu meminta guru untuk menyimpan dan CCTV itu. Saya gak tahu kenapa kami diancam akan deikeluarkan. Padahal kami sudah mendapat hukuman," kata DP.

Ia menambahkan, yang menyedihkan dan paling tidak pantas terjadi di ruang multimedia itu adalah apa yang dikatakan kepala sekolah mereka Dedi Dwitagama kepada VR, rekan mereka yang perempuan. "Kepala sekolah memaki dia dan mempertanyakan jenis kelamin VR dengan perkataan sangat kasar," kata DP.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan kekerasan fisik, ataupun secara verbal dalam dunia pendidikan tidak boleh terjadi. "Guru yang mencederai secara psikis tidak boleh diberi ampun," ujar Arist. Komnas akan memanggil pengurus sekolah untuk dikonfirmasi.

Sumber: wartakota.co.id