Kehabisan Tempat, 2.800 Siswa Tak Bisa Sekolah

5 November 2010 Berita Pendidikan


KLATEN - Besarnya gelombang pengungsian Merapi di Kecamatan Kemalang, Klaten, membuat sejumlah gedung sekolah dan tenda dipenuhi pengungsi. Akibatnya, 2.800 siswa yang sebelumnya menggunakan tenda untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kebingungan mencari tempat.

Kepanikan warga ini meluas, tenda sudah penuh pengungsi. Bisa dikatakan siswa ikut kocar-kacir, ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pendidikan Kecamatan Kemalang, Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Trima S Darsono, Kamis (4/11).

Pada Kamis ini, kepala sekolah dan guru harus mencari keberadaan siswanya. Hal ini lantaran gedung sekolah dan tenda sudah dipenuhi pengungsi. Jumlah siswa yang mengungsi terdata sebanyak 824 siswa.

Sebanyak 2.800 siswa tersebut berasal dari 12 sekolah di Kecamatan Kemalang, antara lain SDN I dan II Panggang; SDN I dan II Talun; SDN I,II dan III Tegalmulyo; SDN I dan II Tangkil; SDN I Bumiharjo; serta SDN I dan II Kendalsari. Jumlahnya sekitar 80 persen dari total 3.500 peserta didik SD di Kemalang, lanjut Trima.

Menurut Trima, kebanyakan siswa yang mengungsi tidak membawa peralatan sekolah. Pun dengan guru dari kecamatan tersebut juga sudah ikut mengungsi. Sedikit sekali yang masuk. Bahkan guru-gurunya tidak lengkap. Semuanya lari mengungsi kemarin, kata dia.

Diungkapkan Trima, hanya ada 7 gedung sekolah yang dapat dimanfaatkan yakni SDN I dan III Kemalang; SDN Dompol, SDN Kendalsari; dan SDN I, II, III Keputran. Di lokasi ini, ujarnya, KBM dilakukan dengan penggabungan kelas dan bergiliran. Kelas VIII dan VII digabung. Lainnya menggunakan ruang yang tidak terpakai seperti perpustakaan, lab, dan lainnya," jelasnya.

Untuk mengantisipasi meluasnya dampak pengungsian terhadap KBM, tenaga pendidikan UPTD mendata jumlah siswa. Data tersebut akan digunakan untuk mengetahui kebutuhan ruang. Trima mengungkapkan, siswa yang terpaksa ikut mengungsi akan ditampung di sejumlah sekolah di lokasi aman seperti SDN Somokaton I, Desa Mipitan, Kecamatan Karangnongko.

Sumber: republika.co.id