Kegigihan Sekolah Minim Siswa di Tengah Ancaman

9 Agustus 2010 Berita Pendidikan


Di tengah gencarnya Dinas Pendidikan Kota Surabaya meningkatkan kualitas pendidikan sebuah potret buram kembali terkuak. Sekolah-sekolah yang berusaha bertahan hidup dan mempertahankan pendidikan siswanya harus berhadapan dengan aturan yang mengancam mereka.
Dua siswa berseragam merah putih terlihat berlarian dan bersembunyi di sudut koridor sekolah di lantai dua. Salah satu di antaranya beberapa kali mengetuk pintu kelas III SD Advent Pancaran Kasih lantas kemudian bersembunyi lagi. Sedangkan siswa yang lain mengintip ke bawah, memastikan guru pengajar kelas. Tak lama kemudian keduanya langsung berlari masuk ke kelas karena guru kelas III Mariani mulai menapak tangga naik. Ayooo..jangan lari-lari di kelas, belajar yang betul, tuturnya.

Sekilas takkan ada yang tahu kalau ada sekolah di belakang Gereja Advent yang berada di Jl. Tanjung Anom 50, kecuali jika berhenti di depan gereja itu. Sekolah itu disambungkan dengan sebuah lorong pendek. Begitu masuk, tampak gedung lantai dua yang tak luas. Di lantai bawah, ada satu ruang pojok yang lumayan luas untuk siswa TK, sedangkan siswa kelas satu dan dua hanya disekat dengan menggunakan rolling door. Di lantai dua, ruangannya lebih kecil. Kelas tiga hingga kelas enam plus sebuah kantor yang selalu terkunci rapat.

Tak lama kemudian, muncul Yayah guru kelas IV yang mengenakan sandal. Dari mulutnya, muncul sekelumit keresahan mengenai keberadaan sekolah yang terancam dicabut izin operasionalnya itu. Dari dulu sekolah ini memang tak lebih dari 50 siswa per tahunnya, jadi kurang pas kalau mau dicabut izinnya tuturnya.

Dari pantauan di kelas, untuk kelas satu jumlah siswanya hanya lima orang, kelas dua tujuh siswa, kelas tiga hanya tiga siswa. Sedangkan untuk siswa kelas empat ada lima siswa dan kelas enam ada delapan siswa.

Yayah ikut gelisah dengan kabar pencabutan izin operasionalnya jika tak mampu menggenjot jumlah siswanya. Dengan nada sedikit emosional dia menganggap tak adil rasanya menutup sekolah ini hanya karena minimnya siswa. Padahal, prestasi siswa tak kalah dengan sekolah yang memiliki banyak siswa. Dicontohkan, dalam UASBN lalu mata pelajaran Matematika tiga dari enam siswa kelas enam mendapat nilai 9 sementara tiga lainnya mendapat nilai 8.

Hal ini diamini Kepala SD Advent Johannes Kalinutu yang mengatakan tahun ini nilai UASBN dikategorikan A atau baik. Total jumlah siswa tahun ini hanya 30 orang. Ini kan sekolah gereja, jumlah anak-anak tak banyak sehingga jumlahnya drop, ungkapnya.

Johannes mengatakan, ancaman dicabut izin operasional sekolah terjadi ketika pengajuan akreditasi sekolah dilakukan. Oleh Dispendik Surabaya, sekolah ini dianggap tak layak karena memiliki murid sedikit. Dinas mengusulkan agar sekolah mau melakukan merger.

Dalam soal ini, Johannes mengatakan, pihak Yayasan Perguruan Advent masih berupaya mempertahankan sekolah ini. Yayasan siap memenuhi permintaan Dinas Pendidikan Surabaya untuk menambah jumlah murid. Kami akan lebih rajin promosi, ujarnya.

Kondisi lebih tragis dialami SD Tanwirul Wathon di Jl. Blauran III nomor 27. Sekolah itu terimpit di antara rumah-rumah warga dan nyaris tak ada tanda yang menunjukkan adanya kegiatan belajar mengajar. Hanya sebuah plakat kecil ditempel di dinding yang menunjukkan sekolah di bawah binaan Lembaga Pendidikan Maarif itu masih hidup. Tahun ini, sekolah tersebut hanya menerima dua siswa baru dari total 46 siswa. Kepala SD Tanwirul Wathon, Imam Syafii awalnya berharap bisa menerima setidaknya 16 siswa, yaitu jumlah yang diluluskan tahun ini. Kita harapkan balance (antara yang lulus dan diterima), tapi kenyataanya tidak bisa, ujarnya sedih.

Gedung sekolah bercat hijau pupus itu hanya sebuah rumah yang tak seberapa luas. Ruangan itu terbagi tiga, dua di antaranya dalam ukuran kecil. Dua ruangan kecil itu digunakan sebagai ruang kepala sekolah dan ruang komputer yang masih belum tertata rapi. Ruang di dalamnya, terbagi dalam tiga sekat dengan kursi kayu untuk sekolah-sekolah inpres. Sebuah kamar mandi ada di dalam ruangan, plus sebuah ruang kecil yang katanya akan dibuat jadi perpustakaan.

Lucunya, dengan kondisi sekolah yang cukup memprihatinkan tersebut sekolah ini dipaksakan untuk ikut akreditasi. Kenekadan ikut proses akreditasi tak lepas dari permintaan dari pihak pengawas sekolah yang menyebut sekolah ini layak untuk diakreditasi. Syarat ketat yang dilampirkan dalam berkas sempat membuat Imam stress. Setelah berupaya memenuhi berkas akreditasi, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari proses tersebut. Setelah itu saya dimarahi habis-habisan oleh Dispendik, keluhnya.

Imam sendiri terlihat pasrah dengan ancaman dicabut izin operasional pasca ketahuan tak punya siswa. Diakuinya, prestasi siswa di UASBN tahun lalu tak terlalu menggembirakan. Namun begitu, pihaknya tetap mempertahankan sekolah ini karena ingin menampung siswa yang tak mampu sekolah secara finansial maupun intelektualitas. Hal inilah yang diharapkan bisa dipertimbangkan Dispendik untuk mencabut izin sekolahnya. Tak hanya itu, dia juga memikirkan nasib dari sembilan guru yang mengajar di sekolah ini. Mereka mau bekerja di mana?Dispendik juga harus memikirkan ini, katanya.

Soal ini, Kadispendik Surabaya Sahudi tak mau tahu. Dia mengatakan merger sekolah adalah konsekuensi dari sekolah yang kekurangan murid. Prosedurnya, siswa tersebut diserahkan ke dispendik untuk selanjutnya digabung ke sekolah lain yang ditunjuk. Saya juga akan menegur pengawas sekolah itu, kenapa tak melaporkan ke dinas kalau ada sekolah seperti itu. Ini namanya kecolongan, katanya.

Seperti yang diketahui ada tiga sekolah yang terancam dicabut izin operasional karena minimnya siswa maupun sarana prasarananya. Tiga sekolah tersebut adalah SD Tanwirul Waton, dan MI Nurul Yakin.*

Sumber: surabayapost.co.id