Kegiatan Kampus yang Mengandung Unsur Kekerasan Akan Ditindak Secara Hukum

29 Januari 2017 Berita Pendidikan


Satu lagi kejadian yang mencoreng dunia pendidikan. Belum lama ini, kegiatan kampus yang mengandung kekerasan berujung dengan meninggalnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta sempat menuai perhatian dan juga membuat geram masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Riset Teknologi dan Pendiidkan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meminta kegiatan kampus yang mengandung unsur kekerasan ditindak secara hukum.

"Kami sudah keluarkan regulasi tidak boleh ada kekerasan dalam kegiatan kemahasiswaan baik intra maupun kokurikuler. Apalagi, yang mengandung kekerasan di dalam kampus, maka kami larang," kata Nasir usai rapat kerja dengan Komisi X DPR di Jakarta, Rabu (25/1).

Kemristekdikti telah menerbitkan aturan yang melarang tidak ada kekerasan di dalam kampus, khusunya dalam penerimaan mahasiswa baru.

"Kalau terjadi kekerasan, ya, dipidana, saya serahkan ke yang berwajib. Untuk mahasiswa yang melakukannya, bisa diskorsing satu semester, 1 tahun, atau bahkan dikeluarkan," ujar mantan Rektor Universitas Diponegoro Semarang itu.

Menristekdikti juga telah meminta Kopertis untuk menangani permasalahan tersebut.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Budi Djatmiko mengatakan bahwa pihaknya akan mendengarkan penjelasan dari pihak UII mengenai kasus tersebut. "Kami akan meminta pihak UII untuk menjelaskan mengenai kasus ini agar tidak timbul spekulasi," kata Budi.

Tiga mahasiswa UII meninggal dunia setelah mengikuti pendidikan dasar (diksar) di lereng selatan Gunung Lawu, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Tiga mahasiswa tersebut, yakni Muhammad Fadli (19) dari Jurusan Teknik Elektro angkatan 2015, Syaits Asyam (19) dari Teknik Industri, dan Ilham Nurpadmy Listia Adi dari Fakultas Hukum angkatan 2015.

Oleh: Faqih F

(Dikutip dari republika.co.id)