Kecurangan Masih Mewarnai Pelaksanaan Ujian Nasional

25 April 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA - Ketua Kepengawasan dan Pemindaian Ujian Nasional (UN) DKI Jakarta, Soeprijanto mengungkapkan masih ada kecurangan yang terjadi di sejumlah sekolah. Kecurangan dan pelanggaran ini membuat kualitas UN masih rendah sehingga perguruan tinggi negeri (PTN) masih belum mau menerima UN sebagai pertimbangan masuk PTN.

Berdasarkan hasil pengawasan hingga hari kedua masih ditemukan kecurangan di beberapa sekolah. Seperti kasus di Jakarta. Soal UN memang sudah disimpan di lemari khusus, namun pihak sekolah sudah membuat kunci duplikatnya. Soal tersebut sudah dipindahkan ke lemari yayasan. Pengawas pun sudah mengambil soal tersebut. Akan tetapi belum dapat dipastikan apakah sekolah membocorkan soal ke siswanya atau tidak, katanya dalam pertemuannya dengan wartawan di Universitas Negeri Jakarta, Rabu (20/4).

Selain itu ada juga sekolah yang kurang percaya akan kemampuan siswanya dan guru pun membantu memberikan jawaban. Bahkan ada pula sekolah yang membiarkan siswa peserta UN mencontek di dalam kelas.

Berdasarkan pantauan Soeprijanto, sekolah swasta yang didominasi kelompok marjinal masih melakukan kecurangan ini. Sekolah ini umumnya SMK. Gedungnya masih menempel di masjid atau menumpang si sekolah lain, katanya lagi.

Karena kecurangan-kecurangan inilah PTN belum bisa menerima kualitas soal UN. Lima paket soal yang dibuat tahun ini memang mengurangi potensi mencontek di kelas. Tetapi kualitasnya masih rendah meskipun sudah berstandar nasional. Pemerintah bukannya membuat soal yang mendidik, tetapi hanya membolak-balik nomor soal. Bukannya menyusun materi soal yang berbeda di setiap paket,

Ia menilai soal yang dibuat tidak hanya mengandung unsur evaluasi, tetapi juga kualitasnya diprediksi sehingga mempunyai posisi tawar pada

Selain itupula, jelasnya, PTN masih belum menerima kualitas soal UN yang tahun ini dibuat lima paket. Katanya, lima paket soal itu memang mengurangi potensi mencontek. Namun kualitas soal yang terstandar nasional itu masih rendah.

Pasalnya, bukannya membuat soal yang mendidik namun pemerintah hanya membolak balik nomor soal bukannya menyusun materi soal yang berbeda disetiap paketnya. Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Sumber: republika.co.id