KBM 5 Hari Perlu Kaji Ulang Lagi

21 April 2016 Berita Pendidikan


Kebijakan kegiatan belajar mengajar (KBM) lima hari yang diberlakukan di sebagian sekolah di Indonesia perlu dikaji ulang. Hal ini disampaikan oleh Pemkab Klaten karena hasilnya tidak efektif dan tidak sesuai dengan harapan.

Sejak tahun 2015 lalu sekolah dari SD hingga SMA di Klaten memberlakukan lima hari sekolah. Sekretaris Komisi IV DPRD Klaten, Eko Prasetyo mengungkapkan permintaan pegembalian waktu belajar mengajar menjadi enam hari itu berdasarkan masukan dari berbagai pihak.

Eko mengatakan keluhan terbanyak terkait dengan waktu di akhir pekan yang tidak dimanfaatkan dengan semestinya oleh para siswa. Pergaulan siswa dikhawairkan tak terkontrol dengan waktu kosong yang lebih panjang.

"Jika sebelumnya, waktu akhir pekan hanya Sabtu malam. Kalau sekarang, Jumat malam anak-anak sudah banyak yang bepergian karena Sabtu libur. Ini yang dikhawatirkan terkait pergaulan anak-anak sulit terkontrol. Yang jelas, dari segi efektivitas kami rekomendasikan kembali ke enam hari sekolah," pungkasnya.

Berbagai pihak dari warga maupun guru setuju dengan pengembalian waktu belajar menjadi enam hari. Menurut salah satu warga, saat lima hari sekolah siswa selalu pulang sampai rumah sudah petang. Hari sabtu pun tidak bisa kumpul keluarga karena orang tua masuk kerja.

Sementara menurut Kepala SDN 4 Wiro Bayat, Sugiyarti, konsekuensi penerapa lima hari membuat jam belajar ditambah setiap harinya. Contohnya kelas empat hingga kelas enam ada penambahan waktu belajar selama satu jam. Ketika memasuki jam pelajaran lebih dari jam 13.00 WIB murid sudah kelelahan dan konsentrasinya kurang. Maka dari itu Sugiyarti setuju untuk mengembalikan waktu belajar enam hari.

Oleh: Feliciany H T
(Dikutip dari berbagai sumber)