Kata Dewi Hughes Soal "Homeschooling"

12 Agustus 2011 Berita Pendidikan


JAKARTA Duta Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), Dewi Hughes mengatakan, setiap anak memerlukan layanan pendidikan yang berbeda. Homeschooling atau sekolah rumah, menurut dia, bisa menjadi pilihan yang menampung berbagai sifat anak yang unik. Bukan hanya unik secara psikis dan fisik, tetapi juga unik karena berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan pola pikir orangtuanya.

Ia mengungkapkan, meski berada di luar sistem pendidikan nasional, homeschooling merupakan pendidikan kesetaraan dengan legalitas yang sama, tetapi lebih sesuai dengan kebutuhan anak.

Sistem pendidikan kita menyamaratakan semuanya. Pola pikir anak dari berbagai macam latar belakang disatukan dalam satu ruang kelas. Nah, homeschooling itu ibarat desainer yang merancang busana. Tidak hanya trendi, tetapi juga sesuai dengan apa yang diperlukan. Homeschooling adalah pendidikan alternatif yang saya sambut positif, kata Hughes kepada Kompas.com, beberapa hari lalu.

Hughes melanjutkan, homeschooling bisa juga dikatakan sebagai sarana pendidikan yang unik karena mampu menyesuaikan berbagai perbedaan. Ia mencontohkan, sama halnya dengan pendidikan di pesantren yang menggunakan sistem kesetaraan. Entah dalam sistem pendidikan religi atau perkembangan model-model yang lainnya. Jika diamati, menurut Hughes, pola homeschooling juga ada dalam lingkungan pesantren.

Kategori homeschooling

Hughes sendiri berpendapat, ada tiga kategori homeschooling. Pertama, homeschooling tunggal, dimana suatu keluarga tinggal di lokasi yang sulit mendapatkan akses pendidikan formal. Misalnya, di kawasan kaki gunung atau di tengah hutan belantara.

Misalnya masyarakat Baduy, tanpa mereka sadari itu juga salah satu bentuk homeschooling dengan pola yang sangat kekeluargaan. Dimana para orangtua mengajarkan cara bercocok tanam, cara hidup akur berdampingan, dan bagaimana cara mereka menghormati warisan leluhur, jelasnya.

Kedua, homeschooling majemuk, dimana para orangtua mengundang tenaga pengajar yang ahli untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak-anaknya. Kategori ini biasanya lebih tren digunakan oleh masyarakat kota, dimana orangtua tidak memiliki cukup waktu karena terlalu sibuk bekerja atau pun karena orangtuanya tidak merasa percaya diri dengan kemampuan mereka untuk mengajar anaknya di homeschooling. Ketiga, homeschooling asosiasi, dimana jenis ini memayungi dua jenis homeschooling lainnya. Para orangtua diberikan kebebasan untuk mengajarkan anaknya dan mereka (orangtua) juga diberikan advokasi untuk terjun langsung serta bertanggungjawab penuh atas pendidikan anaknya.

Misalnya si anak punya penyakit tertentu, sejatinya orangtua lebih mengetahui dan bisa lebih mengerti apa saja yang diperlukan oleh anak-anaknya. Karena anak-anak itu subjek, bukan objek, terang Hughes.

Mengenai metodenya, Hughes menilai tidak ada metode dalam dunia pendidikan yang benar-benar absolut, dan tidak ada metode yang salah. Itu seperti kita memperdebatkan metode apa yang paling efektif untuk perkuliahan. Apakah itu wawancara, diskusi atau lainnya, tegasnya.

Homeschooling mahal?

Menurut Hughes, pada awalya masyarakat memang kebingungan dengan arti dari homeschooling. Selain itu, homeschooling juga kerap dicap sebagai pendidikan alternatif yang sangat mahal. Padahal, homeschooling itu sendiri adalah sebuah pendidikan kesetaraan yang pada awalnya justru diberikan secara gratis. Homeschooling, katanya, hanya sebuah nama dan bukan sekadar sekolah di rumah.

Lucunya orang kita suka enggak mau kalo sekolah di tempat yang gratis karena tidak bergengsi dan terlanjur underestimate. Sehingga sejak 2007 lalu saya diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional untuk membantu menyosialisasikan homeschooling sebagai pendidikan kesetaraan. Saya coba untuk membuka cakrawala dan wawasan masyarakat mengenai homeschooling, ungkapnya.

Selain itu, lanjut Hughes, pemikiran bahwa homeschooling mahal harus diubah. Tidak harus menyiapkan laboratorium mahal di rumah.

Homeschooling saya rasa jauh lebih murah, karena tidak perlu ongkos untuk menuju ke sekolah, tidak ada biaya seragam, bisa menekan angka kenakalan remaja dan bullying, serta buku-buku pendukungnya juga bisa diakses melalui internet, ujarnya.

Sumber: kompas.com