Kapuspendik: Peserta UN Harus Tanamkan Budaya Malu Berbuat Curang

12 Mei 2016 Berita Pendidikan


Dengan berubahnya sistem penilaian UN terhadap kelulusan siswa, maka seharusnya sebuah nilai kini bukan menjadi sebuah suatu hal yang dikhawatirkan. Karena jika ditelaah kembali, prestasi yang baik, akan percuma jika para murid kemudian tidak memiliki integritas atau kejujuran.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam menghimbau agar peserta UN harus tanamkan ke dalam benak masing-masing akan budaya malu berbuat curang.

Dalam mewujudkan hal ini, Nizam mengungkapkan bahwa perlu adanya upaya bersamamembangun mentalitas anticurang atau mentalitas berintegritas. Karena jika kepercayaan diri sudah ditanam sejak dini, perilaku seperti berbuat curang pun akan terhindarkan serta para siswa akan lebih menghargai karya sendiri.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyatakan bahwa nilai rerata UN SMA pada 2016 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini berbeda dari hasil UN tahun 2015 yang memiliki nilai rerata sebanyak 61,29 sementara pada 2016 nilai rerata hanya 54,78.

Sementara di jenjang SMK, terjadi penurunan serupa yakni sebanyak 4,45 poin atau dari 62,11 menjadi 57,66 pada 2016.

Di samping menurunnya nilai merata UN SMA/K ada hal yang patut dibanggakan yakni terdapat peningkatan dalam hal kejujuran para siswa. Hal ini juga disertai semakin banyak sekolah yang menggunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), dan kisi-kisi UN yang tidak lagi rinci. Jadi mau tidak mau, siswa diharuskan mampu dalam menguasai kompetensi jika ingin meraih nilai yang memuaskan.

Oleh: Faqih F
(Dikutip dari berbagai sumber)