Berita Pendidikan
17 Januari 2011

Kaji Penambahan Jam Pelajaran Agama

JAKARTA - Usulan penambahan jam pelajaran agama di sekolah umum terus menggelinding. Rencananya, jam agama yang sekarang berdurasi dua jam pelajaran akan dilipatgandakan menjadi empat jam pelajaran dalam satu pekan. Satu jam pelajaran sama dengan 45 menit. Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) masih menggodok usulan ini.

Penambahan jam pelajaran ini muncul dari kalangan Kementerian Agama (Kemenag). Namun, karena pendidikan umum berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), makan dua instansi ini terus berkoordinasi. Hingga sekarang, masih Kemenag yang berjalan. Sementara Kemendiknas masih menunggu hasil kajian dari BSNP.

Ketua BSNP Djemari Mardapi menjelaskan, usulan penambahan jam pelajaran yang masuk ke tempatnya tidak hanya pada pendidikan agama saja. Banyak usulan penambahan lainnya. Seperti pada pelajaran muatan lokal. Diantaranya kesenian, olah raga, dan bahasa daerah. "Tapi itu semua kami kaji," kata Djemari saat dihubungi kemarin (15/1).

Dia menegaskan, usulan penambahan jam pelajaran itu tetap akan dikaji ulang. Terutama terkait efektivitasnya. Kajian ini perlu karena jika salah satu pelajaran jam pelajarannya ditambah, otomatis bisa mengurangi jam pelajaran lainnya. Djemari menambahkan, jika benar-benar berharap ada penambahan jam pelajaran agama, ia berharap Kemenag mengirim surat permohonan resmi. "Kami masih menunggunya," tutur pria yang juga menjadi koordinator Ujian Nasional itu.

Menurut Djemari menjelaskan, selama ini pihaknya melakukan survey sebelum memutuskan penambahan jam. Survey ini dilakukan dengan membandingkan di negara lain. Ia menambahkan, saat ini perbandingan Indonesia yang pendidikannya setara adalah di Brunei Darussalam dan Malaysia. "Kondisi yang ada, jam pelajaran mereka lebih sedikit," terang Djemari. Dengan kondisi tersebut, ia menjelaskan sebaiknya efektivitas pembelajaran lebih diutamakan dulu.

Selain survey ke luar negeri, BSNP juga bakal melakukan survey ke beberapa siswa. Ini menyangkut aspek-aspek daya serap siswa. Diantaranya adalah, untuk mengetahui apakah siswa tidak kelelahan menerima materi pendidikan agama empat jam pelajaran dalam satu pekan. Selain itu juga melakukan penetuan jam pelajaran yang bakal dikurangi, sebagai konsekwensi penambahan jam pelajaran pendidikan agama.

Djemari menjelaskan, di tengah bergulirnya otonomi daerah, juga semakin menambah santer usulan penambahan tersebut. Dia tidak mempermasalahkan usulan tersebut. "Itu wewenang daerah yang diatur dalam otonomi," katanya. Namun, Djemari menegaskan harus benar-benar bisa dipastikan kualitas penyerapan pendidikan agama bisa meningkat setalah ada penambahan jam pelajaran.

Sumber: jpnn.com

Berita Pendidikan Lainnya...

Direktori Sekolah Info Beasiswa Solusi Pendidikan Promo Tahukah Kamu? Hiburan Tutorial Lowongan Iklan Baris