ITS Satukan Teknologi, Sains, dan Seni

27 Desember 2009 Berita Pendidikan


Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menggelar National Seminar on Applied Technology, Science, and Arts (Aptecs) di Graha 10 November ITS, Surabaya, untuk menyatukan teknologi, sains, dan seni.
Aptecs yang pertama kali digelar itu menghadirkan pakar-pakar sains, teknologi, dan seni dari dalam dan luar negeri. Acara dibuka dengan pertunjukan spektakuler berupa atraksi Banjaran Srepeg oleh Tim Elektro Budoyo dari jurusan Teknik Elektro ITS.

Seminar akbar yang ditandai Remo Kolosal, kemarin (25-12), melibatkan siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya dan Tim Elektro Budoyo itu juga dihadiri Prof. Hiyama Takashi dari Kumamoto University, Jepang. "Saya sangat senang sekali karena seminar akbar tentang teknologi, sains, dan seni akhirnya bisa terlaksana di ITS," kata Rektor ITS Priyo Suprobo, saat membuka Aptecs.

Didampingi Ketua Panitia Aptecs Imam Robandi dan Kepala Unit Inkubator Pusat Bisnis Teknologi dan Industri LPPM ITS Elly Agustiani, Probo mengatakan ITS memang merupakan sebuah institut yang berbasis teknologi.

"Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kesenian juga bisa dikembangkan di ITS itu karena seminar dalam rangka dies natalis ke-49 ITS itu juga menjadi perwujudan dari ajang komunitas para peneliti dan pengkaji bidang iptek, sosial, dan seni," kata dia.

Aptecs 2009 yang bertema Keunggulan pengelolaan sumber-sumber energi dalam menghadapi krisis sosial ekonomi global itu disemarakkan dengan diskusi secara sinergis antara peneliti dan praktisi yang terbagi dalam 10 ruang seminar sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.

Dalam seminar juga ditampilkan stan-stan pameran karya mahasiswa dan hasil riset dosen dalam kurun setahun terakhir, seperti tugas akhir (TA) terbaik, PKMT yang menjuarai Pimnas hingga seni plastik goreng ala Despro ITS.

Beberapa karya yang dipamerkan antara lain Easy Operating Kursi Gigi (juara Pimnas 2009 kategori PKMT), Kontrol Kursi Roda Listrik yang Diinterpretasi oleh Gerakan Mata, dan Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan LED Tenaga Surya.

Dari Mataram, dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) Sudarmadji Rahardjo menemukan kompor gasifikasi untuk oven tembakau virginia yang lebih efisien dan biaya murah serta menghasilkan tembakau berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.

"Kompor gasifikasi oven tembakau flue clure atau FC (pengeringan tembakau dengan clure) itu menggunakan sistem pembakaran primer dan sekunder tanpa asap dan jelaga," kata anggota Forum Komunikasi Energi Daerah Provinsi NTB di Mataram itu seraya menyebut oven itu berbahan bakar batu bara.

Alat itu juga dilengkapi dengan alat pengukur daya aktif atau pengatur suhu sehingga suhu pemanasan bisa diatur sesuai dengan kebutuhan.

Ketika menjelaskan kompor gasifikasi temuannya kepada Gubernur NTB T.G.H. Zainul Majdi, Sudarmadji mengatakan berdasarkan hasil uji coba, kompor gasifikasi tembara yang akan dipasarkan seharga Rp6 juta per unit itu relatif murah dibandingkan kompor gasifikasi lain, terutama yang berbahan bakar minyak tanah.

Menurut dia, kompor gasifikasi tembara hanya membutuhkan biaya pengovenan tembakau sebanyak Rp1,25 juta, sedangkan jika menggunakan kompor gasifikasi dengan minyak tanah biayanya mencapai Rp1,96 juta. Jadi, biaya bisa dikurangi sebesar Rp700 ribu. n S-1

Sumber: Lampungpost.Com