Internasionalisasi, Antara Kemauan dan Ambisi

9 Juni 2011 Berita Pendidikan


BALI - Secara realistis, agak sulit bagi Indonesia menerapkan konsep Internationalisasi Pendidikan Tinggi atau Internationalization of Higher Education (IHE) dengan sekaligus mengingat jumlah perguruan tingginya yang mencapai sekitar 3.000. Banyak perguruan tinggi yang belum siap menerapkannya saat ini, meskipun potensi masing-masing berbeda dan punya keunggulan masing-masing. Demikian diungkapkan Direktur Nuffic Neso Indonesia Marrik Bellen paparannya pada seminar dan workshop "Internationalization on Higher Education: Challenges and Opportunities for Indonesian-Dutch Academic Collaboration" di Bali, Rabu (8/6/2011).

Marrik mencontohkan, di Belanda, jumlah perguruan lebih sedikit dan tidak semuanya menyebut diri sebagai World Class University (WCU) dan menerapkan konsep IHE.

"Kalau di sini banyak potensi, banyak program-program studi yang menarik seperti vulkanologi, seni dan budaya dan beberapa lagi yang tak dipunyai negara lain, serta sumber daya manusia yang siap go internasional. Ini hanya soal kesempatan dan kemauan, yaitu bagaimana mereka harus memulainya dengan keunggulan yang dimiliki itu. Intinya, harus ada ambisi," tutur Marrik.

Namun, lanjut Marrik, selain ambisi, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) juga harus mendukung perguruan-perguruan tinggi tersebut agar siap menerapkan IHE. Dukungan bukan hanya pada dana (funding), tetapi pada kebijakan perguruan tinggi menerapkan IHE tersebut secara konsisten. Marrik menyadari, masalah bidang pendidikan tinggi di Indonesia sangat kompleks jika dikaitkan dengan persiapan penerapan IHE. Hanya, jika dilandasi dengan ambisi yang besar, IHE bukan lagi hanya hot issue dalam taraf persiapan, tetapi sudah berupa kemajuan pelaksanaan.

"Memulainya itu memang terasa sulit. Tapi, sebagai langkah persiapan awal, kita hanya perlu melakukan dua hal, yaitu menjalin international network dengan menjual keunggulan masing-masing, dan kedua, menyiapkan aspek ke dalam, yaitu bagaimana menyiapkan stakeholder untuk go internasional dan membuat analisa dan perencanaan, itu dulu yang utama," ujar Marrik.

Sumber: kompas.com