Ikut Ekskul Tradisional, Enggak?

4 September 2009 Berita Pendidikan


Anggapan siswa-siswi SMA abai terhadap kesenian tradisional ternyata tak selamanya benar. Mereka sangat tertarik ekskul kesenian tradisional. Seni tradisional juga tak identik dengan suku tertentu, misalnya gamelan Jawa selalu disukai orang Jawa.
Saya dari suku Batak, tapi suka karawitan. Saya sudah ikut ekskul gamelan Bali, ekskul gamelan Jawa, juga ekskul kulintang, kata Ollyanda Assabel dari SMA Santa Ursula, Bumi Serpong Damai, Tangerang.

Kata Ollyanda, anak muda justru antusias dengan hal-hal yang sifatnya unik. Malah gak terasa jadul kok, kita ngerasanya ini justru menarik, sambil melestarikan budaya sendiri. Para penonton yang menyaksikan juga pasti kagum melihat teman-temannya bisa melakukan sesuatu yang mereka gak bisa, katanya.

Anak muda enggak peduli budaya sendiri? Hmm mungkin itu cuma beberapa orang kali. Anak muda justru antusias dengan musik tradisional asli atau karawitan kok, tambahnya.

Lalu, apakah yang gak ikut ekskul tradisional berarti tak cinta budaya lokal?

Saya gak ikut ekskul tradisional karena memang gak punya bakat seni. Tapi ini bukan karena saya tidak cinta seni tradisional, kata Nadia dari SMAN 24 Bandung yang punya ekskul angklung.

Rafini Rahmadini dari SMA Al-Azhar 1 Jakarta, yang ikutan ekskul Tari Saman, mengatakan, cinta budaya memang wajib. Cinta budaya bisa diwujudkan dengan ikut ekskul tradisional agar tak lagi sepi peminat. Ini aksi yang mudah dilakukan, jadi tak perlu hujat-menghujat bangsa lain.

Tapi, untuk urusan caci maki ke Malaysia karena mengklaim budaya kita, saya gak ikutan. Lagian, itu juga salah kita sendiri, kenapa gak melestarikannya dengan baik? Kenapa pemerintah gak mematenkan, ya? katanya.

Disadari atau gak, pemerintah memang tak gencar mempromosikan aset budaya kita ke dunia, sementara Malaysia begitu bernafsu menjadi Asia yang sebenar-benarnya.

Budaya kita banyak yang mati suri karena sepi peminat di negeri sendiri, sementara di negeri orang dikagumi, dipromosikan, dan dieksploitasi secara komersial.

Jika kita terus menyalahkan orang lain, kapan mau berbenah sendiri? Eh, ikutan ekskul karawitan, yuk! (Kompas Muda)

Sumber: Kompas Cetak (kompas.com)