Hebring Euy, Ada Kendaraan Ramah Lingkungan ala Mahasiswa

9 Desember 2009 Berita Pendidikan


Ikhsan Permadi (19) tampil layaknya pebalap gokar, lengkap dengan helm dan baju balap. Dengan sigap ia meraih kemudi mobil, lalu menginjak penuh pedal gasnya. Mobil melaju, tetapi tidak terdengar suara apapun kecuali derit roda.
"Mobil ini bebas emisi dan polisi. Tidak ada suara, juga asap. Inilah kendaraan ramah lingkungan," ujar Ikhsan merujuk pada mobil listrik yang dikendarainya itu.

Mobil listrik yang dinamai Ego-Rex itu merupakan karya mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Bandung, Jawa Barat. Kendaraan yang menjadi juara di ajang Kompetisi Mobil Listrik Indonesia 2009 di Kampus Polban, akhir pekan lalu, ini memiliki desain sistem mekanis yang sederhana. Tidak seperti mobil umumnya, termasuk gokar, yang memiliki mesin yang besar, belum lagi bising.

Spesifikasi mobil yang rancang bangunnya sekilas mirip gokar ini terdiri dari komponen aki kering sebagai batere atau sumber tenaga berkekuatan 48 volt 18 Ah, kontroler PWM yang berfungsi mengubah listrik menjadi energi mekanik, serta dua dinamo DC merek Brushless berukuran 500 watt yang bekerja menggerakkan roda belakang.

Dengan komponen simpel, mobil ini sekilas tidak ubahnya mainan mobil listrik. Namun, fungsinya ternyata tidak ubahnya mobil sungguhan, setidaknya model city car. Kecepatannya mencapai 50 kilometer per jam.

"Jika batere diisi penuh delapan jam, mobil ini bisa digunakan selama empat jam nonstop," tutur Yendry (21), mahasiswa Polban yang terlibat di dalam pembuatan kendaraan ini.

Menggunakan mobil, yang dalam skala prototipe sementara baru bisa dipakai untuk satu penumpang, ini dijamin kocek tidak akan terkuras. Jika dikonversikan dalam skala rupiah, pengisian batere full setara Rp 600. Jadi, cukup dengan Rp 600, pengguna bisa menempuh hingga 200 km.

"Pernah ada yang nawar mobil ini Rp 30 juta," tutur Ikhsan kemudian.

Padahal, lanjut dia, biaya membuat mobil ini hanya Rp 10 juta. Anggaran bisa ditekan, sebab mahasiswa menggunakan prinsip daur ulang. Artinya, komponen pendukung semacam ban, rem cakram, setir, dan suspensi menggunakan alat bekas kendaraan.

"Roda pakai bekas ban vespa ukuran 10 inci. Suspensi pake punya motor Suzuki Satria," tutur Yendry mencontohkan.

Hebatnya, pembuatan mobil ini dimulai oleh para mahasiswa itu dengan menyusun rangka sasis sampai menyatukan komponen elektronika dalam waktu kurang dari sebulan. Dengan waktu lebih lama dan dukungan dana memadai, bukan tidak mungkin suatu hari mereka mewujudkan cita-cita membuat kendaraan yang bisa dikomersilkan.

Laporan wartawan KOMPAS Yulvianus Harjono/Editor: latief